IDXChannel – Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) berjangka Malaysia menguat pada perdagangan Rabu (8/7/2026), mengikuti kenaikan harga minyak nabati pesaing serta lonjakan harga minyak mentah di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Kontrak acuan CPO untuk pengiriman September di Bursa Malaysia Derivatives naik 0,15 persen menjadi 4.554 ringgit per ton pada pukul 14.29 WIB. Pada perdagangan Selasa, kontrak tersebut sempat turun 0,07 persen.
Direktur broker Pelindung Bestari, Paramalingam Supramaniam, mengatakan, dikutip Reuters, minat beli mulai muncul di pasar Kuala Lumpur seiring kenaikan harga minyak kedelai dan minyak sawit di bursa Chicago maupun Dalian. Sentimen itu juga didukung meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
Meski demikian, menurut dia, permintaan minyak sawit masih belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan.
Selain itu, aksi penyesuaian posisi investor menjelang rilis laporan pasokan dan permintaan dari Malaysian Palm Oil Board (MPOB) turut membatasi penguatan harga.
Kontrak minyak kedelai paling aktif di Bursa Dalian naik 0,96 persen, sementara kontrak minyak sawit menguat 0,78 persen. Di Chicago Board of Trade (CBOT), harga minyak kedelai naik 1,43 persen.
Harga minyak sawit umumnya bergerak mengikuti pergerakan minyak nabati lain karena bersaing memperebutkan pangsa pasar minyak nabati global.
Sementara itu, harga minyak mentah melonjak lebih dari 2 persen setelah militer AS melancarkan serangan udara terhadap Iran dan kembali menjatuhkan sanksi atas penjualan minyak mentah negara tersebut.
Langkah itu memicu kekhawatiran gencatan senjata yang rapuh mulai runtuh dan pasokan minyak dari Timur Tengah kembali berisiko terganggu.
Kenaikan harga minyak mentah juga membuat minyak sawit lebih menarik sebagai bahan baku biodiesel.
Di sisi lain, ringgit Malaysia, mata uang perdagangan minyak sawit, melemah 0,07 persen terhadap dolar AS sehingga membuat CPO sedikit lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing.
Data Komisi Eropa menunjukkan impor kedelai Uni Eropa pada musim 2025-2026 yang berakhir 30 Juni mencapai 14,1 juta ton, turun 3 persen dibandingkan musim sebelumnya. Sementara itu, impor minyak sawit turun 4 persen menjadi 2,9 juta ton. (Aldo Fernando)