IDXChannel – Harga minyak sawit mentah (CPO) naik pada Kamis (9/4/2026) setelah sempat tertekan lebih dari 3 persen pada hari sebelumnya, seiring munculnya aksi beli murah dan kenaikan harga minyak mentah.
Kontrak CPO acuan pengiriman Juni di Bursa Malaysia Derivatives naik 1,09 persen menjadi 4.636 ringgit Malaysia per ton pada 14.49 WIB.
Meski begitu, penguatan harga masih terbatas akibat tekanan dari minyak nabati pesaing di China serta ketidakjelasan implementasi mandatori biodiesel B50 di Indonesia.
Pelaku pasar masih mencermati apakah kebijakan B50 hanya berlaku untuk sektor bersubsidi atau juga mencakup sektor non-subsidi.
Head of Commodity Research Sunvin Group Anilkumar Bagani mengatakan, dikutip Reuters, kebingungan terkait jadwal penerapan B50 menjadi salah satu faktor yang menahan pemulihan harga CPO.
Kementerian ESDM menerbitkan peraturan menteri yang mengatur jadwal implementasi mandatori pencampuran biodiesel, sebagai langkah untuk mendorong transisi energi sekaligus memperkuat kemandirian energi nasional.
Selain itu, kata Bagani, pelemahan kontrak palm olein, minyak kedelai, dan minyak rapeseed di China turut menahan laju kenaikan harga.
Di pasar global, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) naik 0,44 persen, sementara kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian turun 0,68 persen dan kontrak minyak sawitnya melemah 0,52 persen.
Pergerakan ini penting karena CPO bersaing langsung dengan minyak nabati lain dalam pasar minyak nabati global.
Sementara itu, harga minyak mentah menguat setelah muncul keraguan terhadap stabilitas gencatan senjata dua pekan di Timur Tengah, yang memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi melalui Selat Hormuz.
Kenaikan harga minyak mentah biasanya meningkatkan daya tarik CPO sebagai bahan baku biodiesel.
Dari sisi mata uang, ringgit Malaysia melemah sekitar 0,15 persen terhadap dolar AS, sehingga membuat CPO menjadi sedikit lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing dan membantu menopang permintaan. (Aldo Fernando)