Harga minyak sawit cenderung mengikuti pergerakan harga minyak nabati pesaing karena bersaing memperebutkan pangsa pasar minyak nabati global.
Di sisi lain, ringgit Malaysia, mata uang yang digunakan dalam perdagangan minyak sawit, menguat 0,12 persen terhadap dolar AS sehingga membuat komoditas tersebut sedikit lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing.
Data Komisi Eropa menunjukkan impor kedelai Uni Eropa untuk musim 2026/2027 yang dimulai pada Juli telah mencapai 0,56 juta ton hingga 26 Juli, turun 39 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sementara itu, impor minyak sawit juga turun 39 persen menjadi 0,13 juta ton. (Aldo Fernando)