IDXChannel - Harga minyak sawit mentah (CPO) turun pada Selasa (10/3/2026), berbalik arah setelah reli pada hari sebelumnya yang sempat mendorong harga ke level tertinggi sejak pertengahan Desember 2024.
Menurut data pasar, hingga pukul 15.52 WIB, kontrak berjangka (futures) CPO di Bursa Malaysia Derivatives merosot 2,71 persen ke level 4.444 ringgit Malaysia per ton.
Aksi ambil untung menekan harga setelah lonjakan tersebut, sementara sentimen juga tertekan oleh pelemahan minyak nabati di bursa Dalian dan Chicago, penguatan ringgit, serta penurunan harga minyak mentah.
“Kontrak berjangka mengikuti pergerakan eksternal minyak sawit Dalian, minyak kedelai Chicago, dan harga minyak mentah sambil menunggu data dari Malaysian Palm Oil Board (MPOB),” ujar seorang trader yang berbasis di Kuala Lumpur, seperti dikutip Reuters.
Sementara itu, menurut Trading Economics, data bulanan dari Malaysian Palm Oil Board (MPOB) menunjukkan ekspor Februari turun 22,5 persen secara bulanan meski sebelumnya terjadi restocking menjelang Idulfitri.
Namun, penurunan harga sebagian tertahan oleh kuatnya data perdagangan China, dengan ekspor dan impor sama-sama melampaui ekspektasi pada dua bulan pertama 2026, yang mencerminkan permintaan yang tetap tangguh.
Di Indonesia sebagai pemasok utama, pemerintah dikabarkan dapat menghidupkan kembali rencana mandat biodiesel B50 pada pertengahan tahun ini, menyusul harga minyak mentah yang masih tinggi.
Secara terpisah, MPOB melaporkan stok minyak sawit Malaysia turun 3,9 persen menjadi 2,70 juta ton pada Februari, terendah dalam empat bulan, sementara produksi minyak sawit mentah anjlok 18,6 persen menjadi 1,28 juta ton. (Aldo Fernando)