Secara teknikal, apabila tekanan berlanjut, harga emas dunia diproyeksikan menguji level support pertama di USD4.423,06 per troy ons. Jika tekanan semakin dalam, support berikutnya berada di kisaran USD4.319,00, yang dapat mendorong harga logam mulia turun ke level Rp2.840.000 hingga Rp2.800.000 per gram.
Namun, peluang penguatan masih terbuka. Jika harga emas berbalik naik dan menembus resistance di USD4.559,86 per troy ons, maka logam mulia berpotensi naik ke kisaran Rp2.920.000 per gram. Sementara jika penguatan berlanjut ke resistance kedua di USD4.681,50, harga logam mulia diperkirakan mendekati Rp2.980.000 per gram, meski masih berada di bawah Rp3 juta.
Ibrahim menuturkan, tekanan terhadap emas saat ini dipicu oleh pergeseran minat investor ke dolar AS yang dinilai lebih menarik dalam jangka pendek. Indeks dolar diperkirakan akan bergerak menguat menuju level 101,20 dari support di kisaran 98,73, sehingga semakin membebani harga emas global.
Di sisi lain, kenaikan harga energi juga turut memberi tekanan tambahan. Harga minyak mentah diproyeksikan bergerak di rentang USD93,3-USD107,1, sementara Brent crude oil berpotensi menguat lebih tinggi di kisaran USD110-USD116.