“Jika terjadi koreksi, itu menjadi peluang bagi investor, termasuk bank sentral global, untuk kembali melakukan akumulasi emas,” tutur dia.
Selain faktor geopolitik, penguatan dolar AS turut memengaruhi pergerakan harga emas. Meski secara teori dolar yang kuat dapat menekan emas, dalam kondisi ketidakpastian tinggi keduanya justru bisa menguat bersamaan karena sama-sama menjadi aset lindung nilai.
Ibrahim menambahkan, meningkatnya konflik di Timur Tengah yang melibatkan sejumlah negara dan kelompok milisi berpotensi memperpanjang ketegangan global. Di sisi lain, perang Rusia-Ukraina yang kembali memanas juga menambah tekanan terhadap stabilitas ekonomi dunia.
Kondisi tersebut mendorong permintaan emas tetap tinggi, baik dari investor ritel maupun institusi. Bahkan, pembelian emas oleh bank sentral di berbagai negara diperkirakan akan terus berlanjut sebagai langkah diversifikasi cadangan devisa.
“Selama ketidakpastian global masih tinggi, tren kenaikan emas akan tetap terjaga. Target Rp3 juta per gram sangat terbuka untuk dicapai,” kata Ibrahim.
(DESI ANGRIANI)