"Perkembangan terbaru terkait Selat Hormuz kembali memicu kekhawatiran terhadap tekanan inflasi yang sulit dikendalikan. Jika ketegangan semakin meningkat dan mendorong harga minyak lebih tinggi, emas justru berpotensi menghadapi tekanan penurunan," ujar Senior Research Analyst FXTM Lukman Otunuga.
Menurutnya, jika harga emas menembus kuat di bawah level tersebut, maka harga berpotensi turun menuju USD3.950 hingga USD3.000.
Namun, apabila level USD4.000 mampu bertahan sebagai area dukungan, harga emas berpeluang kembali menguat ke kisaran USD4.100.
Kenaikan biaya energi berpotensi mempertahankan tekanan inflasi, sehingga mendorong bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Kondisi tersebut dapat mengurangi daya tarik emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil.