Prospek tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran juga kembali menemui jalan buntu. Presiden AS Donald Trump mengatakan Tehran kemungkinan tidak menerima persyaratan yang diperlukan untuk mengakhiri konflik.
Di sisi lain, Iran menyatakan akan beralih ke postur militer yang “sepenuhnya ofensif” dan menegaskan Selat Hormuz tetap ditutup hingga Washington memenuhi persyaratan dalam kesepakatan sementara.
Kenaikan harga energi memperkuat alasan bagi bank sentral untuk mempertahankan suku bunga lebih tinggi guna menekan inflasi.
Hal ini terjadi meski sejumlah data ekonomi AS terbaru menunjukkan pelemahan, termasuk penurunan lapangan kerja yang tidak terduga, inflasi yang lebih rendah dari perkiraan, serta lemahnya penjualan ritel pada Juli.
Pelaku pasar kini menantikan risalah pertemuan kebijakan terbaru Federal Reserve (The Fed) yang dijadwalkan dirilis pada Rabu (19/8) waktu setempat. Risalah tersebut dipantau untuk melihat petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga AS selanjutnya.