sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Harga Minyak Anjlok 8 Persen Sepekan, Gencatan Senjata Israel-Hizbullah Redakan Kekhawatiran Pasokan

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
20/06/2026 10:15 WIB
Harga minyak mentah Brent naik tipis pada Jumat (19/6/2026), tetapi membukukan penurunan mingguan sekitar 8 persen.
Harga Minyak Anjlok 8 Persen Sepekan, Gencatan Senjata Israel-Hizbullah Redakan Kekhawatiran Pasokan. (Foto: Magnific)
Harga Minyak Anjlok 8 Persen Sepekan, Gencatan Senjata Israel-Hizbullah Redakan Kekhawatiran Pasokan. (Foto: Magnific)

IDXChannel - Harga minyak mentah Brent naik tipis pada Jumat (19/6/2026), tetapi membukukan penurunan mingguan sekitar 8 persen setelah Israel dan Hizbullah menyepakati gencatan senjata di Lebanon.

Sementara itu, Iran menetapkan sejumlah syarat terkait penggunaan Selat Hormuz yang menjadi jalur penting perdagangan energi global.

Harga minyak mentah Brent berjangka naik 0,53 persen menjadi USD80,38 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 1,23 persen menjadi USD77,54 per barel.

Aktivitas perdagangan relatif tipis karena pasar AS libur nasional.

Produsen minyak di kawasan Teluk bersiap meningkatkan ekspor setelah Israel dan Hizbullah menyepakati gencatan senjata yang mulai berlaku pada pukul 20.00 WIB pada Jumat.

Data MarineTraffic menunjukkan sedikitnya empat kapal tanker yang mengangkut minyak mentah, produk minyak, dan gas petroleum cair (LPG) memasuki Selat Hormuz pada Jumat menuju pelabuhan-pelabuhan Irak di kawasan Teluk.

Namun, di tengah meningkatnya aktivitas tersebut, Iran mengisyaratkan pengawasan yang lebih ketat terhadap lalu lintas kapal. Televisi pemerintah Iran melaporkan bahwa kapal-kapal harus berkoordinasi dengan angkatan laut Garda Revolusi Iran sebelum melintasi wilayah tersebut.

Dalam pemberitahuan yang tidak bertanggal dan diedarkan kepada industri maritim dalam 24 jam terakhir, yang dilihat Reuters, Otoritas Selat Teluk Persia Iran menyatakan bahwa "tidak ada kapal yang diizinkan melewati Selat Hormuz tanpa izin pelayaran yang sah yang diterbitkan oleh PGSA."

Pendiri buletin Commodity Context Rory Johnston mengatakan, kekhawatiran terhadap persyaratan Iran dalam penggunaan Selat Hormuz turut mendorong kenaikan harga minyak pada Jumat.

"Pasar sebelumnya memperkirakan adanya kesepakatan dan pelaksanaan yang berjalan mulus, tetapi sejauh ini hal tersebut tampaknya tidak terjadi," ujar Johnston, dikutip Reuters.

Meski mencatat kenaikan pada Jumat, harga Brent tetap turun sekitar 8 persen dibandingkan pekan sebelumnya.

Penurunan tersebut mencerminkan meredanya kekhawatiran terhadap pasokan setelah kesepakatan AS-Iran untuk mengakhiri perang.

"Meski harga minyak belum kembali ke level sebelum perang dimulai, tampaknya kita sedang menuju ke arah tersebut," kata Analis Senior Price Futures Group Phil Flynn. Ia menambahkan, pasokan minyak yang lebih besar diperkirakan masuk ke pasar dalam beberapa hari mendatang.

"Antrean kapal dapat bergerak lebih cepat dari perkiraan sebagian pihak, dan jika ada kerja sama antara Iran dan AS, prosesnya bisa berlangsung dengan sangat cepat," ujar Flynn.

Rencana pertemuan antara pejabat Iran dan AS di Swiss pada Jumat ditunda. Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan kedua pihak tengah mengatur pembicaraan lanjutan dalam beberapa hari mendatang.

Kementerian tersebut mengatakan pertemuan itu tidak lagi mendesak karena nota kesepahaman untuk mengakhiri perang telah ditandatangani secara digital oleh kedua negara.

Namun, kabar terbaru, mengutip Reuters, utusan khusus Presiden AS Donald Trump, Steve Witkoff, sedang melakukan perjalanan ke Swiss untuk menghadiri putaran pertama pembicaraan dengan Iran terkait kemungkinan kesepakatan nuklir, demikian dilaporkan Axios pada Jumat, mengutip seorang pejabat AS.

Para analis memperkirakan kesepakatan tersebut dapat melepas lebih dari 85 juta barel minyak yang sebelumnya tertahan di kawasan Teluk Timur Tengah ke pasar global.

Kesepakatan itu juga mencakup pencabutan sanksi AS terhadap minyak Iran, yang berpotensi menambah pasokan global.

Sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia melewati Selat Hormuz. Namun, pemulihan arus perdagangan dan produksi setelah kesepakatan AS-Iran dapat membutuhkan waktu beberapa bulan.

Citi memperkirakan skenario utamanya dengan probabilitas 60 persen adalah normalisasi arus perdagangan secara berkelanjutan. Kondisi tersebut berpotensi membuat pasar minyak mengalami surplus dan mendorong harga turun dalam enam hingga 12 bulan ke depan menjadi sekitar USD60-65 per barel pada kuartal I 2027.

Commerzbank memperkirakan pasokan minyak pulih secara bertahap. Bank tersebut memangkas proyeksi harga Brent akhir tahun menjadi USD80 per barel dari sebelumnya USD85 per barel, tetapi memperkirakan harga tetap berada di atas level sebelum perang sepanjang sebagian besar tahun depan.

Menteri Perminyakan Irak Basim Mohammed mengatakan ladang minyak negara itu siap kembali beroperasi. Produksi diperkirakan meningkat secara bertahap hingga kembali ke tingkat normal sebelumnya.

Dari sisi permintaan, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dalam laporan World Oil Outlook 2026 memperkirakan konsumsi minyak dunia meningkat menjadi 113,3 juta barel per hari (bph) pada 2030, dari 105,1 juta bph pada 2025. (Aldo Fernando)

Halaman : 1 2 3 4 5
Advertisement
Advertisement