Sejak perang Iran dimulai pada 28 Februari, harga Brent sempat melonjak hingga USD126,41 per barel pada 30 April.
Namun, harga hanya sempat menyentuh USD100 per barel pada akhir Juli setelah sebelumnya turun kembali di bawah level tersebut pada akhir Mei.
Volume pelayaran melalui Selat Hormuz juga masih jauh di bawah level sebelum perang.
Jalur strategis tersebut menjadi rute bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia, sehingga memiliki peran penting dalam perdagangan energi global.
“Fundamental jangka pendek tiba-tiba menunjukkan pasokan yang jauh lebih ketat. Serangan yang terjadi secara bergantian antara AS dan Iran tampaknya kini menjadi pola yang terus berlangsung, sementara peluang tercapainya kesepakatan damai semakin menjauh,” kata Senior Vice President Energy Trading BOK Financial Dennis Kissler.