Analis komoditas BNP Paribas, Jason Ying, dikutip Reuters, memperkirakan harga Brent turun ke kisaran USD55 per barel pada kuartal I-2026, sebelum pulih ke sekitar USD60 per barel untuk sisa 2026, seiring pertumbuhan pasokan yang mulai normal dan permintaan yang relatif datar.
“Alasan kami lebih bearish dibanding pasar dalam jangka pendek adalah karena kami menilai produsen shale AS mampu melakukan lindung nilai pada level harga yang tinggi,” ujarnya.
Ying menambahkan, “Dengan demikian, pasokan dari produsen shale akan lebih konsisten dan tidak terlalu sensitif terhadap pergerakan harga.”
Data Badan Informasi Energi AS (EIA) menunjukkan stok minyak mentah AS turun pada pekan lalu, namun persediaan distilat dan bensin justru meningkat lebih besar dari perkiraan.
“Laporan ini memang sedikit mendukung dari sisi penurunan stok minyak mentah, tetapi isi detailnya kurang menggembirakan. Januari dan Februari kemungkinan akan berat setelah musim liburan berlalu,” kata Mitra Again Capital Markets, John Kilduff.