IDXChannel – Harga minyak dunia diproyeksikan masih bertahan di level tinggi pada perdagangan sepekan ke depan setelah mencatat penguatan tajam pada pekan lalu.
Ketegangan Amerika Serikat (AS) dan Iran serta gangguan jalur pasokan di Timur Tengah menjadi penopang utama harga minyak.
Harga minyak Brent ditutup naik 76 sen atau 0,8 persen menjadi USD96,28 per barel pada Jumat (4/9/2026) lalu.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 18 sen atau 0,2 persen ke USD91,48 per barel.
Secara mingguan, Brent melonjak 7,6 persen, sedangkan WTI naik hampir 10 persen.
Penguatan tersebut terjadi setelah AS dan Iran kembali terlibat dalam pertukaran serangan militer, sementara jalur pasokan minyak di Timur Tengah masih mengalami gangguan akibat konflik yang telah memasuki bulan ketujuh.
Analis FX Empire Christopher Lewis melihat harga minyak masih memiliki peluang untuk mempertahankan kenaikannya.
Menurut dia, WTI telah bergerak hingga sekitar USD93 per barel dan belum menunjukkan alasan kuat untuk mengambil posisi bearish secara agresif.
Lewis memperkirakan WTI bergerak dengan area USD90-USD95 per barel dalam waktu dekat, dengan USD95 menjadi level penting yang perlu ditembus untuk membuka ruang kenaikan berikutnya.
Sementara itu, kisaran sekitar USD70 per barel menjadi batas bawah dalam rentang perdagangan sejak konflik berlangsung.
Untuk Brent, level USD95 per barel menjadi titik perhatian pasar setelah harga kembali mendekati level tersebut.
Jika mampu bertahan di atas USD95, harga berpeluang melanjutkan penguatan menuju level yang lebih tinggi. Sebaliknya, kegagalan mempertahankan level tersebut dapat mendorong harga kembali ke area pertengahan USD90-an.
Menurut Lewis, perkembangan konflik di kawasan Teluk Persia masih menjadi faktor utama yang akan menentukan arah harga.
Setiap gangguan lebih lanjut terhadap distribusi minyak dapat memperketat pasokan dan memberikan dorongan tambahan terhadap harga.
Di sisi lain, kenaikan harga minyak mulai memberikan dampak terhadap inflasi global. Harga diesel ritel di AS bahkan telah mencapai rekor tertinggi, meningkatkan biaya transportasi dan produksi sekaligus menambah tekanan terhadap inflasi.
Chief Economist Rystad Energy Claudio Galimberti mengatakan kenaikan harga diesel berdampak terhadap hampir seluruh sektor ekonomi.
Kondisi tersebut berpotensi mempertahankan tekanan inflasi dan membuat biaya pinjaman pemerintah tetap tinggi. (Aldo Fernando)