Melansir dari Reuters, sentimen pasar dipicu oleh pernyataan Trump terkait Iran. Presiden AS itu mengatakan pembicaraan dengan Iran ‘sedang berlangsung saat ini’ dan memperingatkan bahwa Teheran menghadapi ‘pemenggalan kepemimpinan’ apabila tidak menyetujui kesepakatan untuk mengakhiri konflik.
Namun, Iran membantah klaim tersebut. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei menegaskan tidak ada negosiasi yang berlangsung dengan AS maupun agenda pertemuan yang telah dijadwalkan.
Menurutnya, Iran juga tidak memiliki rencana menerima delegasi asing atau mengirim perunding ke luar negeri dalam beberapa hari ke depan.
Sebelumnya, sepanjang akhir pekan, Trump kembali mengulangi pola yang beberapa kali terjadi dalam lima bulan terakhir, yakni mengumumkan rencana ‘serangan besar-besaran’ terhadap Iran sebelum akhirnya membatalkannya pada saat-saat terakhir.
Analis dari firma konsultan energi Ritterbusch and Associates menilai aksi jual tajam di pasar minyak merupakan reaksi yang berlebihan terhadap pernyataan Trump mengenai kemungkinan tercapainya kesepakatan dengan Iran setelah sebelumnya mengancam akan melancarkan serangan besar.