Aktivitas pelayaran di selat sempit itu hampir terhenti sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari.
Kondisi ini menghambat ekspor sekitar seperlima pasokan minyak dunia dan mendorong harga minyak global melonjak ke level tertinggi sejak 2022.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan negaranya siap mengawal kapal tanker yang melintas di Selat Hormuz bila diperlukan.
Namun, sejumlah sumber mengatakan kepada Reuters bahwa Angkatan Laut AS menolak permintaan industri pelayaran untuk pengawalan militer karena risiko serangan masih terlalu tinggi untuk saat ini.
Di sisi lain, IEA merekomendasikan pelepasan 400 juta barel minyak, yang menjadi langkah terbesar dalam sejarah organisasi tersebut, untuk menekan harga energi yang telah melonjak lebih dari 25 persen sejak perang dimulai.