Kerajaan itu mengandalkan pelabuhan Yanbu di Laut Merah untuk membantu meningkatkan ekspor guna menghindari pemangkasan produksi yang lebih tajam, setelah negara tetangganya seperti Irak, Kuwait, dan Uni Emirat Arab lebih dulu menurunkan produksi.
Konsultan energi Wood Mackenzie menyebut perang saat ini memangkas pasokan minyak dan produk minyak dari kawasan Teluk sekitar 15 juta barel per hari, yang dapat mendorong harga minyak mentah hingga USD150 per barel.
"Namun, bahkan jika konflik cepat mereda, pasar energi kemungkinan masih menghadapi gangguan selama beberapa pekan," tulis Morgan Stanley dalam catatannya. (Aldo Fernando)