sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Harga Minyak Melonjak 9 Persen, Blokade Laut AS terhadap Iran Picu Kekhawatiran Pasokan

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
14/07/2026 06:55 WIB
Harga minyak dunia melonjak lebih dari 9 persen ke level tertinggi dalam satu bulan pada Senin (13/7/2026).
Harga Minyak Melonjak 9 Persen, Blokade Laut AS terhadap Iran Picu Kekhawatiran Pasokan. (Foto: Magnific)
Harga Minyak Melonjak 9 Persen, Blokade Laut AS terhadap Iran Picu Kekhawatiran Pasokan. (Foto: Magnific)

IDXChannel – Harga minyak dunia melonjak lebih dari 9 persen ke level tertinggi dalam satu bulan pada Senin (13/7/2026).

Lonjakan terjadi setelah muncul kabar bahwa blokade laut Amerika Serikat (AS) yang mulai berlaku pada Selasa akan mencakup seluruh garis pantai, pelabuhan, dan terminal minyak Iran, serta seluruh kapal tanpa memandang bendera negara asalnya.

Langkah tersebut kembali memicu kekhawatiran terhadap kelancaran pasokan energi melalui Selat Hormuz.

Kontrak berjangka minyak Brent ditutup melesat 9,59 persen menjadi USD83,30 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melambung 9,42 persen menjadi USD78,14 per barel.

Kenaikan Brent menjadi yang terbesar dalam sehari sejak 2 April, sekaligus mencatat harga penutupan tertinggi sejak 12 Juni.

WTI membukukan kenaikan harian terbesar sejak 29 April dan ditutup pada level tertinggi sejak 15 Juni.

Berdasarkan informasi dari Joint Maritime Information Center yang dipimpin Angkatan Laut AS, blokade laut tersebut mulai diberlakukan pada 15 Juli pukul 03.00 WIB. Kebijakan itu sebelumnya sempat dicabut pada pertengahan Juni.

Sebelumnya pada hari yang sama, Presiden AS Donald Trump menyatakan pemerintahannya kembali memberlakukan blokade laut terhadap Iran dan akan mengenakan biaya sebesar 20 persen atas seluruh kargo yang melintasi Selat Hormuz setelah kembali pecah aksi saling serang antara AS dan Iran.

"Keputusan Presiden Trump untuk kembali membatasi lalu lintas maritim Iran, disertai serangan balasan dan penurunan tajam arus kapal yang melintasi selat, telah meningkatkan kekhawatiran terhadap ketersediaan pasokan minyak dalam jangka pendek," tulis analis Gelber & Associates dalam risetnya, dikutip Reuters.

Sebelumnya, Komando Gabungan Tertinggi Militer Iran menegaskan tidak akan membiarkan Washington ikut campur dalam pengelolaan Selat Hormuz. Iran juga memperingatkan bahwa setiap upaya AS melintas tanpa izin akan mendapat respons.

Sementara itu, badan pelayaran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menolak usulan Trump tersebut.

Organisasi itu menyatakan menentang penerapan biaya atas jalur pelayaran internasional dan menegaskan tidak ada dasar hukum untuk memberlakukan pungutan wajib bagi kapal yang melintasi selat.

Sebelum konflik pecah pada akhir Februari, Selat Hormuz menjadi jalur pengiriman sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia setiap hari.

Lalu lintas kapal sempat meningkat selama gencatan senjata yang rapuh pada Juni, namun kembali melambat seiring meningkatnya ketegangan.

"Fokus pasar akan tetap tertuju pada jumlah kapal tanker yang masuk karena penurunan jumlahnya dapat memengaruhi produksi. Untuk saat ini, premi risiko dan potensi gangguan pasokan masih menjadi faktor yang menopang harga minyak," ujar Analis UBS Giovanni Staunovo. (Aldo Fernando)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement