IDXChannel – Saham sektor minyak dan gas (migas) di bursa Tanah Air cenderung melemah pada Jumat (13/3/2026) saat harga minyak mentah dunia melonjak ke rekor tertinggi dalam hampir empat tahun terakhir.
Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) merosot 3,07 persen ke Rp1.420 per unit, diikuti PT Radiant Utama Interinsco Tbk (RUIS) yang tergerus 2,36 persen.
Kemudian, saham PT Elnusa Tbk (ELSA) terdepresiasi 2,01 persen, PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) berkurang 2,08 persen, dan PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) melemah 1,16 persen.
Selain itu, saham PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) minus 0,49 persen, sedangkan induknya, PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) stagnan di Rp3.500 per unit.
Berbeda, saham PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) menguat 0,40 persen.
Pelemahan saham migas seiring dengan tertekannya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) 0,71 persen ke posisi 7.307 pagi ini, melemah tiga hari beruntun di tengah kecamuk perang Iran yang membuat investor global cenderung keluar dari pasar saham.
Harga minyak dunia ditutup melonjak sekitar 9 persen pada Kamis (12/3) dan mencapai level tertinggi dalam hampir empat tahun, setelah Iran meningkatkan serangan terhadap fasilitas minyak dan transportasi di Timur Tengah.
Pada saat yang sama, pemimpin tertinggi Iran berjanji akan tetap menutup Selat Hormuz yang vital bagi jalur perdagangan energi global.
Kontrak berjangka (futures) minyak Brent ditutup di USD100,46 per barel, melesat 9,2 persen, setelah sempat menyentuh level tertinggi sesi di USD101,60.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS berakhir di USD95,70 per barel, juga melejit 9,7 persen.
Kedua kontrak minyak tersebut mencatat penutupan tertinggi sejak Agustus 2022.
Wakil Presiden sekaligus Kepala Riset Minyak Mentah Global di S&P Global Energy, Jim Burkhard, mengatakan pasar saat ini berada dalam kondisi sangat tidak seimbang.
“Situasi ini akan terus berlangsung sampai Selat Hormuz dibuka kembali dan operasi hulu maupun hilir kembali normal. Itu tidak akan terjadi dengan cepat,” ujarnya, seperti dikutip Reuters.
Menteri Energi Amerika Serikat Chris Wright mengatakan kepada CNBC International bahwa Angkatan Laut AS saat ini belum dapat mengawal kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz. Namun ia menilai langkah tersebut “cukup mungkin” dilakukan sebelum akhir bulan.
Wright menambahkan harga minyak global kecil kemungkinan melonjak hingga USD200 per barel, meskipun Iran terus menyerang kapal-kapal dagang.
Pejabat keamanan Irak menyebut dua kapal tanker bahan bakar di perairan Irak diserang perahu Iran yang membawa bahan peledak. Seorang pejabat Irak juga mengatakan kepada media pemerintah bahwa seluruh pelabuhan minyak negara itu telah menghentikan operasinya.
Sementara itu, Oman memindahkan seluruh kapal dari terminal ekspor minyak utamanya di Mina Al Fahal yang berada di luar Selat Hormuz sebagai langkah pencegahan, menurut laporan Bloomberg News.
Sebelumnya pada Senin, harga Brent sempat melonjak ke USD119,50 per barel, level tertinggi sejak pertengahan 2022.
Namun harga kemudian turun setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan perang Iran kemungkinan segera berakhir. (Aldo Fernando)