Sepanjang perdagangan, harga Brent dan WTI bergerak sangat fluktuatif, sempat menguat hingga USD2 per barel sebelum berbalik melemah sekitar USD1 per barel.
Level tertinggi kedua benchmark tersebut menjadi yang tertinggi sejak 24 Juli.
“Serangan terbaru menandai eskalasi signifikan setelah sekitar satu bulan relatif tenang. AS menargetkan kemampuan radar dan penebaran ranjau Iran, sementara Iran membalas dengan menyerang posisi-posisi AS di seluruh kawasan,” tulis Direktur perusahaan pialang Liquidity Energy, Mark Schaefer, dalam sebuah catatan, seperti dikutip Reuters.
Menurutnya, perhatian utama pasar minyak kini tertuju pada kemungkinan konflik yang kembali memanas tersebut semakin mengganggu arus pasokan fisik minyak di kawasan.
Perang dimulai setelah serangan gabungan AS dan Israel terhadap target-target Iran pada akhir Februari.
Sejak saat itu, Iran secara efektif membatasi lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, jalur strategis yang sebelum konflik dilalui sekitar seperlima konsumsi minyak dan gas alam cair (LNG) global.