IDXChannel – Harga minyak mentah Brent ditutup menguat 1 persen pada perdagangan Rabu (2/9/2026).
Kenaikan terjadi setelah serangan militer antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas, sehingga membatasi pasokan minyak global.
Perang AS-Iran kini memasuki bulan ketujuh. Serangan terbaru menjadi baku tembak terbesar antara Teheran dan Washington sejak Juli.
Pasukan AS melancarkan serangan ke wilayah pesisir selatan Iran, sementara Iran membalas dengan menyerang pangkalan-pangkalan Amerika di berbagai kawasan.
Kontrak berjangka (futures) minyak Brent ditutup naik 1 persen menjadi USD95,63 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS meningkat 0,9 persen ke USD91,01 per barel.
Sepanjang perdagangan, harga Brent dan WTI bergerak sangat fluktuatif, sempat menguat hingga USD2 per barel sebelum berbalik melemah sekitar USD1 per barel.
Level tertinggi kedua benchmark tersebut menjadi yang tertinggi sejak 24 Juli.
“Serangan terbaru menandai eskalasi signifikan setelah sekitar satu bulan relatif tenang. AS menargetkan kemampuan radar dan penebaran ranjau Iran, sementara Iran membalas dengan menyerang posisi-posisi AS di seluruh kawasan,” tulis Direktur perusahaan pialang Liquidity Energy, Mark Schaefer, dalam sebuah catatan, seperti dikutip Reuters.
Menurutnya, perhatian utama pasar minyak kini tertuju pada kemungkinan konflik yang kembali memanas tersebut semakin mengganggu arus pasokan fisik minyak di kawasan.
Perang dimulai setelah serangan gabungan AS dan Israel terhadap target-target Iran pada akhir Februari.
Sejak saat itu, Iran secara efektif membatasi lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, jalur strategis yang sebelum konflik dilalui sekitar seperlima konsumsi minyak dan gas alam cair (LNG) global.
Berbagai negara berupaya membatasi kenaikan harga dengan mencari sumber pasokan alternatif dan mengandalkan cadangan minyak. Namun, cadangan tersebut juga terus menyusut.
Korps Garda Revolusi Iran menyatakan serangan AS justru akan semakin membatasi lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz.
Data awal pelayaran Kpler pada Rabu menunjukkan hanya empat kapal komoditas yang melintasi Selat Hormuz, jauh di bawah rata-rata sekitar 13 kapal dalam 10 hari terakhir.
Garda Revolusi Iran juga menyatakan dua kapal tanker minyak menghantam ranjau laut dan mengalami kerusakan saat mencoba melintasi selat tersebut.
Iran turut menambah daftar kapal yang dianggap tidak mematuhi ketentuan. Kapal-kapal tersebut dapat dikenai denda, disita, atau ditahan apabila mencoba berlayar melalui Selat Hormuz, menurut situs pemerintah Iran.
Namun, Menteri Energi AS Chris Wright pada Selasa mengklaim sebanyak 17 juta barel minyak berhasil melintasi Selat Hormuz pada Senin. Ia menyebut volume tersebut sebagai yang terbesar sejak perang Iran dimulai.
Di sisi lain, Irak meningkatkan ekspor minyaknya pada Agustus. Pengiriman minyak diperkirakan kembali meningkat pada September setelah tingginya keuntungan perdagangan serta persetujuan Iran bagi kapal tanker Irak untuk melintasi Selat Hormuz mendorong minat pembeli, menurut sumber industri dan data pelayaran.
“Meski peningkatan konflik akan memperlambat transit melalui Selat Hormuz dalam jangka pendek, pasar telah menyadari bahwa pasokan minyak alternatif masih dapat mencapai pasar pada akhirnya,” kata Senior Vice President Trading BOK Financial, Dennis Kissler.
Dari sisi pasokan, OPEC+ juga diperkirakan mempertahankan kebijakan produksi minyaknya pada Oktober dalam pertemuan Minggu mendatang.
Tiga sumber yang mengetahui pembahasan tersebut mengatakan kepada Reuters bahwa kelompok produsen minyak itu sedang menyelesaikan pembatalan salah satu lapisan pemangkasan produksi bulan ini dan mulai mengalihkan perhatian pada negosiasi kuota 2027.
Sementara itu, Rusia melancarkan serangan besar menggunakan rudal dan drone terhadap infrastruktur energi di wilayah Odesa, Ukraina selatan, pada Rabu. Serangan tersebut dikonfirmasi oleh operator sistem transmisi listrik Ukrenergo.
Di AS, persediaan minyak mentah turun 4,5 juta barel pada pekan lalu, menurut Energy Information Administration (EIA).
Penurunan tersebut jauh lebih besar dibandingkan perkiraan analis dalam jajak pendapat Reuters yang memperkirakan persediaan hanya berkurang 1,1 juta barel. (Aldo Fernando)