Sementara itu, lalu lintas kapal pengangkut komoditas yang melintasi Selat Hormuz turun menjadi hanya satu digit per hari pada akhir pekan, berdasarkan data awal pelacakan kapal yang dirilis pada Senin. Angka tersebut jauh di bawah rata-rata 10 hari sebanyak 14 kapal per hari.
Sebelum AS dan Israel menyerang Iran pada akhir Februari, sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz.
Dengan pipa timur-barat Arab Saudi masih tidak beroperasi, pelabuhan Laut Merah Yanbu harus mengandalkan persediaan minyak yang tersimpan.
Berdasarkan keterangan tiga sumber industri, persediaan tersebut diperkirakan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan ekspor selama lima hingga tujuh hari.
Perkembangan tersebut membuat risiko gangguan pasokan minyak global kembali menjadi perhatian pasar, terutama jika eskalasi konflik Timur Tengah terus menghambat jalur distribusi energi utama. (Aldo Fernando)