IDXChannel - Harga minyak ditutup melonjak lebih dari 4 persen pada perdagangan Senin (1/6/2026) setelah kantor berita Iran, Tasnim, melaporkan, Teheran menghentikan negosiasi tidak langsung dengan Amerika Serikat (AS).
Iran juga disebut tengah menyiapkan langkah bersama pasukan dan sekutunya untuk memblokir sepenuhnya Selat Hormuz serta berpotensi mengganggu jalur pelayaran strategis lainnya.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah meningkat dalam beberapa hari terakhir setelah Iran dan AS saling melancarkan serangan.
Di saat yang sama, Israel memerintahkan pasukannya bergerak lebih jauh ke Lebanon dalam operasi melawan kelompok Hizbullah yang didukung Iran.
Kontrak berjangka (futures) minyak Brent ditutup melonjak 4,2 persen ke level USD94,98 per barel. Sementara itu, minyak mentah AS (WTI) meningkat 5,5 persen menjadi USD92,16 per barel.
Kedua acuan minyak tersebut sempat melonjak lebih dari 6 persen pada awal perdagangan.
Namun, kenaikannya berkurang setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan dirinya tidak mengetahui adanya penghentian perundingan dengan Iran.
Trump juga mengaku telah berkomunikasi dengan Hizbullah melalui perantara dan memperoleh jaminan bahwa kelompok tersebut tidak akan menyerang Israel.
Meski demikian, kontrak minyak masih mencatat pemulihan tajam setelah sepanjang Mei lalu Brent dan WTI masing-masing anjlok sekitar 17 persen hingga 19 persen.
Penurunan bulanan itu menjadi yang terbesar secara nominal sejak Maret 2020 ketika pandemi COVID-19 memangkas permintaan energi global. Saat itu, pasar optimistis AS dan Iran semakin dekat mencapai kesepakatan.
Sebelumnya pada Senin, Tasnim melaporkan, Teheran dan "Poros Perlawanan" yang mencakup sekutu Iran di Yaman, Lebanon, dan Irak telah menyusun agenda untuk memblokir sepenuhnya Selat Hormuz dan mengaktifkan front lain, termasuk Selat Bab el-Mandeb, sebagai upaya untuk "menghukum" Israel dan para pendukungnya.
Direktur Eksekutif Mizuho, Robert Yawger, dalam catatannya menyebut, dikutip Reuters, Selat Bab el-Mandeb berada di ujung selatan Laut Merah. Jalur tersebut saat ini digunakan Arab Saudi untuk mengirimkan sekitar 4 juta hingga 6 juta barel minyak per hari.
"Rasanya kedua pihak berada di dunia yang berbeda," kata Presiden Lipow Oil Associates, Andrew Lipow.
Menurutnya, semakin lama konflik berlangsung, semakin rendah persediaan minyak komersial yang tersedia di pasar.
"Pada titik tertentu harga akan melonjak. Kita mungkin hanya berjarak satu atau dua bulan dari situasi tersebut," ujarnya.
Eskalasi konflik ini menjadi hambatan tambahan bagi harapan berakhirnya krisis dalam waktu dekat.
Situasi tersebut pada praktiknya telah mengganggu fungsi Selat Hormuz, jalur vital bagi pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.
Laporan Axios di platform X pada Jumat lalu bahkan menyebut Iran telah menambah ranjau laut di kawasan selat tersebut selama pekan sebelumnya.
Para eksekutif perusahaan pelayaran yang bertemu di Athena pada Senin mengatakan setiap kesepakatan damai nantinya harus memberikan kepastian aturan yang jelas agar kapal-kapal dapat kembali beroperasi secara normal melalui Selat Hormuz.
Di luar kekhawatiran pasokan minyak, data ekonomi China yang dirilis akhir pekan lalu juga membebani sentimen pasar.
Data tersebut menunjukkan aktivitas manufaktur masih stagnan sehingga memicu kekhawatiran bahwa ekonomi terbesar kedua di dunia itu mulai kehilangan momentum pertumbuhannya. (Aldo Fernando)