AALI
9800
ABBA
292
ABDA
6750
ABMM
1400
ACES
1350
ACST
195
ACST-R
0
ADES
3650
ADHI
830
ADMF
7600
ADMG
194
ADRO
2260
AGAR
362
AGII
1475
AGRO
1485
AGRO-R
0
AGRS
148
AHAP
70
AIMS
404
AIMS-W
0
AISA
173
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1130
AKRA
810
AKSI
740
ALDO
1380
ALKA
358
ALMI
290
ALTO
222
Market Watch
Last updated : 2022/01/17 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
507.30
-0.48%
-2.43
IHSG
6645.05
-0.72%
-48.35
LQ45
948.02
-0.52%
-4.93
HSI
24218.03
-0.68%
-165.29
N225
28333.52
0.74%
+209.24
NYSE
0.00
-100%
-17259.00
Kurs
HKD/IDR 1,836
USD/IDR 14,319
Emas
838,644 / gram

Harga Minyak Naik, Defisit Migas Bakal Makin Membengkak

MARKET NEWS
Oktiani Endarwati
Selasa, 26 Januari 2021 17:30 WIB
Periset Data dan Informasi Energi IESR Deon Arinaldo memperkirakan defisit transaksi berjalan migas akan cenderung kembali naik di tahun 2021. 
Harga Minyak Naik, Defisit Migas Bakal Makin Membengkak
Harga Minyak Naik, Defisit Migas Bakal Makin Membengkak

IDXChannel – Makin membanjirnya impor migas dan masih bergantungnya Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak (BBM) dan liquefied petroleum gas (LPG) berdampak makin meningkatnya defisit transaksi berjalan migas di 2021.

Periset Data dan Informasi Energi Institute for Essential Services Reform (IESR) Deon Arinaldo memperkirakan defisit transaksi berjalan migas akan cenderung kembali naik di tahun 2021. 

"Untuk migas, defisit transaksi berjalan akan membengkak lagi seiring dengan kenaikan harga minyak," ujarnya dalam Indonesia Energy Transition Outlook (IETO) 2021, Selasa (26/1/2021).

Seperti diketahui, mengutip Xinhua, harga minyak hari ini untuk West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Maret naik 50 sen menjadi USD 52,77 per barel di New York Mercantile Exchange. Minyak mentah Brent untuk pengiriman Maret naik 47 sen menjadi USD 55,88 per barel di London ICE Futures Exchange.

Menurut dia, strategi diversifikasi produk BBM dan LPG merupakan pilihan pemerintah dalam mengurangi impor minyak mentah, BBM, dan LPG. Meski begitu, perlu strategi jangka pendek dan menengah untuk mengendalikan laju kenaikan permintaan minyak. 

"Kami melihat perlu strategi jangka pendek, seperti reformasi subsidi dan jangka menengah lainnya untuk membantu menekan defisit ini lebih jauh lagi," ungkapnya.

Sementara dari sisi investasi, target investasi hulu migas akan semakin sulit dicapai karena perusahaan migas dunia akan cenderung menahan diri serta adanya ketidakpastian permintaan minyak domestik.

"Untuk investasi sendiri, perusahaan migas akan cenderung wait and see menahan mengembangkan portofolio investasinya," imbuhnya.

Disisi lain, beberapa perusahaan migas swasta di Indonesia telah mengumumkan rencana investasi ke sektor energi baru terbarukan (EBT). Untuk itu, perlu dorongan lebih agar laju investasi dapat terakselerasi.

"Tren perusahaan migas internasional mulai bergerak ke energi baru terbarukan. Untuk mendorong mereka lebih berkecimpung di EBT, mungkin perlu menciptakan ekosistem yang mendukung investasi di EBT itu sendiri," tandasnya. (RAMA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD