IDXChannel - Harga minyak naik pada Selasa (20/1/2026), didorong oleh penghentian sementara produksi di ladang minyak Kazakhstan serta ekspektasi pertumbuhan ekonomi global yang lebih solid, yang berpotensi mengerek permintaan bahan bakar.
Pelaku pasar juga terus mencermati ancaman tarif Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap sejumlah negara Eropa yang menentang upayanya untuk menguasai Greenland.
Minyak Brent berjangka (futures) ditutup menguat 1,53 persen ke level USD64,92 per barel.
Sementara itu, kontrak minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Februari, yang berakhir pada Selasa, naik 1,51 persen ke USD60,34 per barel.
Kontrak WTI Maret yang lebih aktif diperdagangkan menguat 1,72 persen ke USD60,36 per barel.
Produsen minyak Kazakhstan, Tengizchevroil, yang dipimpin Chevron, pada Senin mengatakan telah menghentikan sementara produksi di ladang Tengiz dan Korolev setelah terjadi gangguan pada sistem distribusi listrik.
Sumber-sumber yang mengetahui situasi tersebut mengatakan kepada Reuters pada Selasa bahwa ladang Tengiz berpotensi berhenti beroperasi selama tujuh hingga 10 hari ke depan.
Kondisi ini diperkirakan memangkas ekspor minyak mentah melalui jaringan Caspian Pipeline Consortium.
“Ladang Tengiz termasuk salah satu yang terbesar di dunia, sehingga gangguan ini jelas berdampak pada aliran pasokan minyak mentah,” kata Direktur Energi dan Pengilangan ICIS, Ajay Parmar, dikutip Reuters.
Parmar melanjutkan, “Namun, gangguan ini tampaknya bersifat sementara. Jika retorika tarif terus berlanjut, kami memperkirakan harga kembali melemah.”
Pasar minyak juga mendapat dukungan dari data produk domestik bruto (PDB) China kuartal keempat yang lebih baik dari perkiraan dan dirilis pada Senin, kata analis pasar IG, Tony Sycamore.
“Ketahanan ekonomi importir minyak terbesar dunia ini memberi dorongan pada sentimen permintaan,” ujarnya.
Data menunjukkan ekonomi China tumbuh 5 persen sepanjang tahun lalu. Sepanjang 2025, throughput kilang China naik 4,1 persen secara tahunan, sementara produksi minyak mentahnya meningkat 1,5 persen.
“Harga minyak turut menguat seiring revisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun ini oleh Dana Moneter Internasional (IMF), serta menguatnya harga diesel,” kata analis PVM, Tamas Varga.
Pelemahan dolar AS juga menopang harga, karena mata uang AS yang lebih lemah membuat pembelian minyak berdenominasi dolar menjadi lebih murah.
Kekhawatiran akan kembalinya perang dagang meningkat akhir pekan lalu setelah Trump mengatakan akan mengenakan tarif tambahan sebesar 10 persen mulai 1 Februari terhadap barang impor dari negara-negara Uni Eropa seperti Denmark, Finlandia, Prancis, Jerman, Swedia, dan Belanda, serta Inggris dan Norwegia.
Tarif tersebut diperkirakan naik menjadi 25 persen pada 1 Juni jika tidak tercapai kesepakatan terkait Greenland.
Menurut Parmar, ancaman tarif Trump berdampak negatif terhadap harga minyak karena bea masuk tersebut berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi global dan pada akhirnya mengurangi laju pertumbuhan permintaan minyak.
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen pada Selasa mengatakan, lembaga eksekutif Uni Eropa tengah menyiapkan paket dukungan untuk keamanan kawasan Arktik, seraya menegaskan bahwa kebijakan tarif tersebut merupakan sebuah kekeliruan. (Aldo Fernando)