Kepada wartawan di Gedung Putih, ia mengatakan harga minyak mentah seharusnya bisa mencapai USD250 per barel, bukan berada di kisaran USD85 hingga USD90 per barel saat ini.
Pernyataan itu disampaikan setelah Trump menulis di Truth Social bahwa Teheran harus “membayar harganya” karena dianggap memperlambat proses negosiasi menuju kesepakatan damai.
“Harga minyak telah beralih dari kecemasan ke sikap acuh tak acuh, lalu kembali lagi ke kecemasan seiring memanasnya kembali bentrokan antara AS dan Iran,” kata Analis Senior di Price Futures Group Phil Flynn, dikutip Reuters.
Harga minyak juga mendapat dukungan dari data Administrasi Informasi Energi AS (EIA) yang menunjukkan persediaan minyak mentah Negeri Paman Sam turun tajam pekan lalu karena kilang berupaya menutup kekurangan pasokan akibat perang.
EIA melaporkan stok minyak mentah AS turun 7,2 juta barel pada pekan yang berakhir 5 Juni, jauh lebih besar dibandingkan penurunan 4 juta barel yang diperkirakan analis dalam jajak pendapat Reuters.