Sebelumnya, harga Brent sempat melonjak hingga USD119 per barel pada Kamis sebelum akhirnya terkoreksi. Pernyataan Menteri Keuangan AS Scott Bessent yang membuka peluang pencabutan sanksi terhadap minyak Iran menjadi salah satu faktor utama yang menekan harga.
Kebijakan tersebut diperkirakan dapat membebaskan sekitar 140 juta barel minyak tambahan ke pasar global, sebagai upaya meredam lonjakan harga yang dipicu konflik di Iran.
Sepanjang 2026, harga minyak telah melonjak lebih dari 40 persen akibat meningkatnya risiko gangguan pasokan.
Selain itu, Amerika Serikat bersama sejumlah negara besar juga mempertimbangkan pelepasan cadangan minyak strategis guna menstabilkan harga energi yang terus meningkat.
Di sisi lain, sejumlah bank sentral utama dunia memperingatkan potensi kenaikan suku bunga sebagai respons terhadap tekanan inflasi yang dipicu lonjakan harga energi.