Laporan juga menyebutkan pejabat Arab Saudi memperkirakan harga minyak bisa melonjak hingga USD180 per barel apabila gangguan pasokan dari Iran berlanjut melewati April.
Kenaikan ekstrem tersebut berpotensi meningkatkan pendapatan negara produsen, namun di sisi lain dapat menekan permintaan global dan pertumbuhan ekonomi.
Ketegangan meningkat setelah Israel menyerang ladang gas South Pars, ladang gas terbesar di dunia yang dimiliki bersama oleh Iran dan Qatar. Serangan ini memicu balasan dari Iran yang menargetkan sejumlah fasilitas energi di kawasan Timur Tengah.
Situasi semakin diperparah dengan terganggunya jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz, yang menjadi jalur utama distribusi minyak dan gas dunia.
Penutupan sebagian jalur ini meningkatkan risiko gangguan pasokan, terutama bagi negara-negara di kawasan Asia.
(DESI ANGRIANI)