Tembaga yang dikenal sebagai barometer kesehatan ekonomi global mendapat dorongan dari meredanya kekhawatiran pasar.
Sebelumnya, logam merah ini tertekan akibat lonjakan harga minyak selama konflik yang memicu kekhawatiran inflasi dan melemahkan prospek pertumbuhan ekonomi.
Sepanjang Maret, harga tembaga di London tercatat turun 7,55 persen, menjadi penurunan bulanan terdalam sejak Juni 2022 setelah AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran.
Pelemahan dolar AS juga turut menopang harga komoditas karena membuat logam yang dihargakan dalam dolar menjadi lebih murah bagi investor global.
Dari sisi permintaan, pasar China menunjukkan tanda pemulihan. Persediaan tembaga yang dipantau SHFE turun untuk minggu kedua berturut-turut menjadi 359.135 ton per 27 Maret, menandakan konsumsi mulai membaik di negara konsumen terbesar logam dunia tersebut.