IDXChannel - Harga tembaga melemah pada perdagangan Selasa (18/8/2026), setelah menyentuh level tertinggi dalam enam bulan pada sesi sebelumnya.
Pelaku pasar mencermati serangkaian data ekonomi China yang mengecewakan serta berakhirnya kesepakatan gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Kontrak tembaga tiga bulan di London Metal Exchange (LME) turun 0,13 persen menjadi USD14.139,5 per ton pada pukul 14.00 WIB.
Sementara itu, kontrak tembaga yang paling aktif diperdagangkan di Shanghai Futures Exchange (SHFE) melemah 0,97 persen menjadi 107.930 yuan per ton.
“Data ekonomi China yang lebih lemah dari perkiraan membebani sentimen di sektor logam dasar,” kata Senior Commodity Strategist ANZ, Daniel Hynes, dalam sebuah catatan, dikutip Reuters.
Data Biro Statistik Nasional China menunjukkan, produksi industri Negeri Tirai Bambu tumbuh 4,5 persen secara tahunan pada Juli 2026. Angka tersebut melambat dibandingkan Juni sekaligus berada di bawah ekspektasi pasar.
Investasi aset tetap China, yang mencakup investasi di sektor-sektor pengguna tembaga seperti properti dan infrastruktur, juga terkontraksi 6,7 persen dalam tujuh bulan pertama 2026. Pasar sebelumnya memperkirakan penurunan sebesar 6 persen.
Permintaan China terhadap tembaga impor juga telah tertekan oleh tingginya harga. Premi tembaga Yangshan turun menjadi USD85 per ton pada Senin (17/8/2026), level terendah dalam lebih dari satu bulan.
Meski demikian, premi tersebut masih hampir dua kali lipat dibandingkan level awal tahun.
Di sisi lain, harga minyak mentah Brent naik seiring negosiasi untuk mengakhiri perang di Timur Tengah masih menemui jalan buntu.
Harga minyak yang tinggi berpotensi meningkatkan tekanan inflasi dan mendorong suku bunga tetap tinggi, sehingga menekan aktivitas ekonomi serta komoditas yang sensitif terhadap pertumbuhan seperti tembaga.
Sementara itu, harga nikel bergerak menguat setelah juru bicara Presiden Indonesia menyatakan bahwa bursa yang direncanakan pemerintah untuk komoditas mineral dan strategis kemungkinan mencakup nikel.
Di LME, harga nikel naik 0,15 persen. Di SHFE, nikel menguat 0,44 persen.
Untuk logam lainnya di LME, aluminium turun 0,15 persen, seng melemah 0,7 persen, timbal bergerak stagnan, sedangkan timah turun 0,13 persen.
Di SHFE, aluminium turun 0,15 persen, seng melemah 0,73 persen, timbal naik 0,28 persen, dan timah terkoreksi 1,27 persen. (Aldo Fernando)