sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

IHSG Bergejolak, Saatnya Terapkan Jurus Taktis Kelola Risiko

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
05/03/2026 06:19 WIB
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun tajam pada Rabu (4/3/2026) di tengah kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang menekan pasar.
IHSG Bergejolak, Saatnya Terapkan Jurus Taktis Kelola Risiko. (Foto: Freepik)
IHSG Bergejolak, Saatnya Terapkan Jurus Taktis Kelola Risiko. (Foto: Freepik)

IDXChannel – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun tajam pada Rabu (4/3/2026) di tengah kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang menekan pasar.

Eskalasi konflik di Timur Tengah serta keputusan Fitch Ratings memangkas outlook Indonesia menjadi negatif membuat pelaku pasar kian berhati-hati, memicu aksi jual di berbagai sektor.

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup merosot 4,57 persen ke level 7.577,06, setelah sempat tergelincir hingga 5,71 persen pada intraday. Nilai transaksi mencapai Rp29,64 triliun, dengan volume 50,39 miliar saham.

Sebanyak 767 saham melemah, hanya 61 saham menguat, dan 130 sisanya stagnan.

Dengan penurunan tersebut, IHSG telah melemah selama tiga hari berturut-turut, dengan akumulasi koreksi secara mingguan mencapai 8,95 persen.

Dalam rilis resmi, Rabu (4/3/2026), revisi outlook ini mencerminkan meningkatnya ketidakpastian kebijakan serta dinilai tergerusnya konsistensi bauran kebijakan di tengah sentralisasi pengambilan keputusan.

Fitch menilai kondisi tersebut berpotensi melemahkan prospek fiskal jangka menengah, menekan sentimen investor, dan mengurangi ketahanan eksternal.

Meski demikian, penegasan peringkat BBB mencerminkan rekam jejak Indonesia dalam menjaga stabilitas makroekonomi, prospek pertumbuhan menengah yang relatif baik, rasio utang pemerintah yang moderat, serta bantalan eksternal yang cukup.

Kekuatan ini, menurut Fitch, masih tertahan oleh rasio penerimaan negara yang rendah, beban bunga utang yang tinggi, serta indikator tata kelola yang tertinggal dibandingkan negara dengan peringkat setara.

Strategi di Tengah Kepanikan

Menurut riset BRI Danareksa Sekuritas, Rabu (4/3/2026), penurunan IHSG hingga minus 5 persen kerap memicu kepanikan di pasar.

Namun, dalam dinamika pasar modal, fase koreksi tajam seperti ini merupakan bagian dari siklus yang tidak terhindarkan.

BRI Danareksa menekankan, fokus utama investor seharusnya bukan menebak di mana titik terendah pasar, melainkan memastikan strategi tetap terkontrol dan risiko dikelola dengan disiplin.

Bagi investor yang sudah memiliki saham, pendekatan yang disarankan adalah lebih selektif.

Untuk saham berkapitalisasi besar (big caps) dengan fundamental kuat, investor disarankan menahan posisi dan tidak terburu-buru melakukan average down.

Sebaiknya, kata BRI Danareksa, tunggu satu hingga dua hari untuk melihat tanda-tanda stabilisasi pasar.

Sebaliknya, pada saham spekulatif atau yang memiliki fundamental lemah, disiplin cut loss perlu diterapkan jika harga menembus level support penting.

“Prioritas utama saat volatilitas tinggi adalah menjaga modal,” tulis BRI Danareksa.

Sementara itu, bagi investor yang masih memiliki dana tunai atau crash, BRI Danareksa mengingatkan agar tidak langsung masuk seluruhnya ke pasar.

Strategi bertahap dinilai lebih bijak, yakni mengalokasikan sekitar 30 persen dana saat terjadi panic ekstrem, 30 persen setelah ada konfirmasi rebound, dan menyisakan 40 persen apabila pasar kembali melanjutkan penurunan.

“Masuk bertahap membantu mengurangi risiko salah timing,” kata BRI Danareksa.

Riset tersebut juga menyoroti sejumlah faktor eksternal yang perlu dicermati, di antaranya pergerakan harga minyak dan nilai tukar rupiah.

Jika harga minyak menembus USD100 per barel, tekanan terhadap pasar berpotensi berlanjut.

Begitu pula jika rupiah melemah tajam, risiko arus keluar dana asing (capital outflow) bisa meningkat.

Untuk trader jangka pendek, pendekatan defensif lebih disarankan. Hindari masuk saat kepanikan di awal perdagangan, tunggu pembentukan basis harga (base), ambil keuntungan secara realistis, dan tetap disiplin membatasi risiko dengan cut loss.

“Kesimpulannya, saat market terkoreksi dalam, pendekatan terbaik adalah disiplin, selektif, dan fokus pada manajemen risiko,” demikian kata BRI Danareksa. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Halaman : 1 2 3 4 5
Advertisement
Advertisement