IDXChannel - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah ke level 5.066,94. Tekanan jual mendominasi perdagangan awal dengan mayoritas saham berada di zona merah.
Pada sesi awal pembukaan, jumlah saham yang melemah tercatat lebih dari tiga kali lipat dibandingkan saham yang menguat.
Tercatat 383 saham mengalami tekanan, sedangkan 105 saham menguat dan 475 saham tidak mengalami perubahan. Kondisi tersebut menunjukkan tekanan jual terjadi cukup merata di pasar saham domestik.
Dari sisi aktivitas perdagangan, nilai transaksi tercatat mencapai Rp383,5 miliar dengan volume sebanyak 1,417 miliar saham, dan frekuensi transaksi mencapai 44.200 kali. Sementara itu, kapitalisasi pasar (market cap) tercatat sebesar Rp8.881 triliun.
Dari sisi indeks sektoral, tekanan paling dalam terjadi pada sektor infrastruktur yang melemah 1,97 persen. Disusul sektor konsumen non-primer yang terkoreksi 1,52 persen, transportasi turun 1,48 persen, serta barang baku melemah 1,38 persen.
Sementara itu, sektor teknologi menjadi salah satu penopang perdagangan dengan penguatan 1,05 persen. Sektor keuangan turut naik 0,44 persen dan kesehatan menguat 0,15 persen.
Secara keseluruhan, delapan dari 11 sektor saham bergerak di zona merah pada awal perdagangan, sedangkan tiga sektor lainnya berhasil mencatatkan penguatan.
Di tengah pelemahan indeks, sejumlah saham masih mampu mencatatkan penguatan signifikan. Samindo Resources (MYOH) memimpin daftar saham top gainers dengan kenaikan 21,11 persen ke level Rp1.090, kemudian Alakasa Industrindo (ALKA) menguat 16,52 persen menjadi Rp5.150, dan SLJ Global (SULI) naik 15,15 persen ke Rp76.
Sementara itu, saham Indo Straits (PTIS) menguat 12,43 persen menjadi Rp208 dan Aracord Nusantara Group (RONY) naik 11,57 persen ke level Rp1.350.
Sebaliknya, Bumi Teknokultura Unggul (BTEK) dan Express Transindo Utama (TAXI) menjadi saham dengan penurunan terdalam. Keduanya masing-masing melemah 9,09 persen ke level Rp10 per saham.
Selanjutnya, Nanotech Indonesia Global (NANO), Soraya Berjaya Indonesia (SPRE), dan Harta Djaya Karya (MEJA) sama-sama terkoreksi 7,69 persen.
(Dhera Arizona)