Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah turut menjadi pemicu aksi ambil untung (profit taking). Berdasarkan kurs JISDOR, rupiah tercatat terdepresiasi sekitar 3,5 persen secara year to date (ytd) ke level Rp17.308 per USD per 23 April 2026, meskipun suku bunga acuan tetap ditahan.
Di sisi lain, sentimen domestik juga datang dari musim pembagian dividen. Sejumlah emiten memasuki fase cum date dengan imbal hasil yang bervariasi, antara lain BNGA (8,6 persen), ADMR (2,7 persen), ADRO (4,7 persen), dan ITMG (3,7 persen).
Pasar juga mencermati rebalancing indeks domestik seperti IDX30, LQ45, dan IDX80 yang akan berlaku pada periode 4 Mei hingga 31 Juli 2026, yang berpotensi memicu pergerakan saham-saham tertentu.
Dari eksternal, sentimen global cenderung beragam. Indeks saham berjangka di Wall Street dibuka menguat terbatas pada awal pekan, dengan pelaku pasar menantikan rilis kinerja emiten teknologi besar seperti Alphabet Inc., Microsoft, Amazon, Meta Platforms, hingga Apple.
Sementara itu, perkembangan politik di Amerika Serikat juga menjadi perhatian setelah Donald Trump memanfaatkan insiden keamanan di Gedung Putih untuk mendorong kebijakan imigrasi dan tambahan anggaran keamanan.