Faktor lainnya yaitu tensi geopolitik masih tetap tinggi mulai dari demonstrasi di Iran, perang Rusia Ukraina, dan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro. “Semua isu ini mempengaruhi sentimen pasar saham dan juga meningkatkan Volatilitas harga minyak dunia., “ kata dia.
Dari dalam negeri, perekonomian Indonesia di penutup 2025 tetap resilien, didukung aktivitas manufaktur yang masih ekspansif, inflasi yang terkendali, serta neraca perdagangan yang terus mencatatkan surplus.
Faktor-faktor tersebut mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat di tahun 2026 dan menjadi sentimen positif untuk bursa saham. “Pekan depan pelaku pasar menantikan data inflasi level konsumen dan produsen, penjualan ritel dari AS,” ujarnya.
(Febrina Ratna Iskana)