Jeffrey juga menyoroti tingginya jumlah perusahaan tercatat yang mampu mencetak laba pada awal tahun ini. Menurutnya, capaian tersebut merupakan yang terbaik dalam lima tahun terakhir.
Pada 2020, hanya sekitar 63 persen perusahaan tercatat yang berhasil membukukan laba bersih. Sementara sepanjang periode 2021 hingga 2025, persentasenya berada di kisaran 73-76 persen. Adapun pada kuartal I-2026, angka tersebut meningkat menjadi 80 persen.
"Kuartal I-2026, sebanyak 80 persen perusahaan tercatat membukukan laba bersih. Ini menunjukkan bahwa fundamental perusahaan-perusahaan tercatat kita saat ini berada dalam kondisi yang baik," kata Jeffrey.
Dia berharap para investor dapat menjadikan laporan keuangan emiten sebagai salah satu dasar utama dalam mengambil keputusan investasi.
Menurutnya, keputusan investasi yang rasional perlu mempertimbangkan kondisi fundamental perusahaan dan disesuaikan dengan profil risiko masing-masing investor.