Dengan perubahan tersebut, bobot gabungan empat saham besar, yakni BBCA, BBRI, BMRI, dan ASII, meningkat dari 24,33 persen menjadi 27,45 persen. Artinya, lebih dari seperempat pergerakan IHSG kini terkonsentrasi pada empat saham tersebut.
“IHSG kini jadi proxy bank. Sensitif terhadap rupiah dan foreign flow, yang saat ini sama-sama negatif,” tulis BRI Danareksa.
BRI Danareksa memperkirakan setiap perubahan 1 persen pada harga saham big four banks dapat memberikan dampak sekitar 14 poin terhadap IHSG dengan menggunakan basis indeks 5.030.
Kondisi ini membuat pergerakan IHSG semakin sensitif terhadap sentimen yang memengaruhi saham-saham perbankan besar, terutama nilai tukar rupiah dan arus dana investor asing.
Meski demikian, perubahan pembobotan tersebut tidak serta-merta membuat volatilitas IHSG lebih rendah. Simulasi BRI Danareksa Sekuritas menunjukkan volatilitas IHSG tanpa saham HSC justru mencapai 31 persen, lebih tinggi dibandingkan volatilitas aktual sebesar 29 persen.