Meski demikian, posisi IHSG masih berada dalam fase pemulihan. Secara mingguan indeks masih turun 4,25 persen, melemah 14,87 persen dalam satu bulan terakhir, dan terkoreksi 31,40 persen secara year-to-date (ytd).
Sebelumnya, pasar saham domestik tertekan oleh kombinasi sejumlah sentimen negatif, mulai dari aksi outflow investor asing, peringatan terkait transparansi pasar dari MSCI yang kemudian diikuti FTSE Russell, pelemahan nilai tukar rupiah hingga menyentuh rekor terendah, ketidakpastian kebijakan di dalam negeri, hingga meningkatnya tensi geopolitik global.
Sentimen positif terbaru datang dari langkah Bank Indonesia (BI) yang menaikkan suku bunga acuan serta upaya sejumlah institusi domestik untuk menjaga stabilitas pasar modal.
Phintraco Sekuritas menilai keputusan BI menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen mendapat respons positif dari pasar. Kebijakan tersebut diikuti penguatan nilai tukar rupiah sebesar 0,65 persen ke level Rp18.065 per USD kemarin.
BI menyatakan langkah tersebut diperlukan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus menjaga ketahanan ekonomi nasional dan memastikan target inflasi 2026-2027 tetap tercapai.