Pertama, peringatan MSCI pada Januari 2026 terkait potensi penurunan status Indonesia dari pasar berkembang (emerging market) menjadi pasar frontier. Kedua, keputusan lembaga pemeringkat Fitch dan Moody’s yang menurunkan prospek peringkat utang Indonesia menjadi negatif.
Selain itu, ketegangan di Timur Tengah yang mendorong lonjakan harga minyak turut menekan pasar.
Harga minyak mentah Brent sempat mencapai USD118 per barel, jauh di atas asumsi harga minyak dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar USD70 per barel. Kekhawatiran lain muncul dari kebijakan ekspor satu pintu oleh PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) serta skema gross split untuk sektor pertambangan.
Tekanan tersebut membuat valuasi IHSG mengalami penurunan signifikan. Rasio harga terhadap laba (price to earnings/P/E) IHSG turun menjadi 9,8 kali dan rasio harga terhadap nilai buku (price to book value/P/B) menjadi 1,6 kali, jauh di bawah rata-rata 10 tahun masing-masing sebesar 16,7 kali dan 2,2 kali.
Dari sisi valuasi, IHSG juga tertinggal dibandingkan pasar negara berkembang lainnya. Rasio P/E IHSG berada di bawah India, Malaysia, China, dan Thailand yang masing-masing mencapai 19,6 kali, 14,9 kali, 14,6 kali, dan 16,1 kali.