Salah satunya adalah pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang memastikan tidak ada perubahan skema royalti dan gross split bagi perusahaan tambang dalam waktu dekat.
Selain itu, pasar mulai mendapat kejelasan mengenai rencana DSI yang akan berperan sebagai perantara, bukan pedagang (trader).
Sentimen positif juga datang dari meredanya ketegangan geopolitik setelah kesepakatan damai awal, kendati masih rapuh, antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang membuat harga Brent turun dari puncaknya USD118 per barel menjadi sekitar USD79 per barel.
Dari sisi moneter, kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI) yang mencapai total 100 basis poin sepanjang 2026 juga dinilai membantu menjaga stabilitas rupiah.
Analis membandingkan kondisi saat ini dengan periode taper tantrum 2013 ketika rupiah melemah 24 persen akibat defisit transaksi berjalan 4,4 persen, sehingga BI menaikkan suku bunga acuan hingga 175 basis poin.