Dampak penurunan outlook ini merembet ke emiten-emiten besar seperti Telkom, Pertamina, serta perbankan utama (Mandiri, BRI, BNI, BCA, BTN) yang kini lebih sensitif terhadap potensi penurunan peringkat lebih lanjut.
Dari sisi global, meskipun ada sinyal positif lewat jalur diplomasi AS-Iran di Oman, risiko eskalasi di sektor maritim tetap membayangi pasar.
“IPOT melihat risiko geopolitik tetap tinggi karena AS pada saat yang sama menjatuhkan sanksi baru terkait ekspor minyak Iran. Kami menilai peluang eskalasi serangan terbatas di maritim masih terbuka meski jalur diplomasi berlanjut,” ujar Imam.
Memasuki pekan kedua Februari, perhatian investor akan terbagi antara data inflasi Amerika Serikat dan China, serta indikator domestik seperti penjualan ritel Desember 2025 dan penjualan mobil Januari 2026.
IPOT memproyeksikan IHSG masih bergerak bervariasi dengan kecenderungan melemah terbatas. Pasar diprediksi sangat berhati-hati memantau dampak pemangkasan outlook oleh Moody’s terhadap biaya pendanaan emiten-emiten besar di Indonesia dengan support 7.716 dan resisten di 8.207.