sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

IHSG Pekan Ini Diproyeksi Variatif, Pasar Cermati Data China hingga Suku Bunga Jepang

Market news editor Desi Angriani
15/06/2026 07:09 WIB
Pelaku pasar juga akan mencermati arah pergerakan teknikal IHSG yang masih berada dalam fase penentuan tren.
IHSG Pekan Ini Diproyeksi Variatif, Pasar Cermati Data China hingga Suku Bunga Jepang (Foto: iNews Media Group)
IHSG Pekan Ini Diproyeksi Variatif, Pasar Cermati Data China hingga Suku Bunga Jepang (Foto: iNews Media Group)

IDXChannel - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pekan ini akan dipengaruhi oleh sejumlah sentimen global mulai dari data produksi industri China hingga keputusan suku bunga Bank of Japan (BoJ). 

Di tengah periode perdagangan yang lebih singkat karena libur Tahun Baru Islam 1448 Hijriah, pelaku pasar juga akan mencermati arah pergerakan teknikal IHSG yang masih berada dalam fase penentuan tren.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi mengatakan, investor perlu memperhatikan rilis data Industrial Production China yang akan menjadi indikator penting untuk mengukur kekuatan pemulihan ekonomi dan aktivitas manufaktur negara tersebut.

Data tersebut dinilai sangat relevan bagi Indonesia mengingat China merupakan mitra dagang utama sekaligus tujuan ekspor nonmigas terbesar nasional.

Perbaikan aktivitas ekonomi China berpotensi memberikan sentimen positif terhadap emiten-emiten berbasis komoditas dan sektor yang memiliki eksposur ekspor ke Negeri Tirai Bambu.

Selain itu, perhatian pasar juga tertuju pada rapat kebijakan moneter Bank of Japan. BoJ diperkirakan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 1,00 persen dari sebelumnya 0,75 persen.

Tidak hanya keputusan suku bunga, investor juga akan mencermati perkembangan inflasi Jepang sebagai petunjuk arah kebijakan moneter selanjutnya.

Menurut Imam, ekspektasi sikap hawkish BoJ didorong oleh meningkatnya tekanan inflasi akibat lonjakan harga energi global yang dipicu ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Jika bank sentral Jepang kembali menaikkan suku bunga atau memberikan sinyal pengetatan yang lebih agresif, kondisi tersebut berpotensi memicu penutupan posisi carry trade oleh investor global.

"Jika BoJ kembali menaikkan suku bunga atau memberi sinyal pengetatan moneter yang agresif, investor berpotensi menutup posisi carry trade mereka, yang dapat memicu volatilitas tinggi di pasar keuangan global, termasuk pasar negara berkembang seperti Indonesia," ujar Imam dalam risetnya, Senin (15/6/2026).

Lebih lanjut, IHSG masih berada dalam tren turun jika dilihat dari pergerakan sejak mencapai titik tertingginya. Hal tersebut tercermin dari struktur pergerakan indeks yang masih membentuk pola lower low dan lower high.

Meski demikian, tekanan bearish dinilai mulai berkurang. Penurunan IHSG dari puncaknya hingga pekan lalu diperkirakan telah membentuk lima gelombang penurunan (impulsive wave), yang umumnya menjadi sinyal bahwa fase koreksi mulai mendekati akhir.

"Dalam time horizon yang lebih pendek, atau sejak pertengahan April, pergerakan IHSG membentuk pola extension dan berpotensi telah menyelesaikan lima gelombang. Skenario ini akan terkonfirmasi apabila IHSG berhasil menembus level resistance di 6.286," kata Imam.

Namun, sinyal teknikal jangka pendek masih menunjukkan adanya keraguan di kalangan investor.

Dua candlestick terakhir memperlihatkan momentum penguatan yang mulai melemah. Candle pertama membentuk pola spinning top, yang mengindikasikan keseimbangan antara tekanan beli dan jual.

Sementara pada perdagangan berikutnya, IHSG sempat menembus area spinning top dan memunculkan optimisme pasar. Akan tetapi, indeks akhirnya ditutup membentuk pola shooting star dan gagal menembus area resistance sebelumnya.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pelaku pasar masih menunggu katalis yang lebih kuat sebelum menentukan arah pergerakan berikutnya.

Adapun level resistance penting yang perlu diperhatikan investor berada di area 6.286, sementara level support berada di 5.695.

Berikut rekomendasi saham pekan ini:

1. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) 

Buy on Pullback TPIA (Entry:  Rp1.715- Rp1.790, Target Price (TP): Rp2.070 dan Stop Loss (SL): < Rp1.680)

2. PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN)

Buy MNCN (Entry: Rp214, Target Price (TP): Rp230 dan Stop Loss (SL): <Rp206)

3. PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI)

Buy on Breakout MAPI (Entry: Rp1.525, Target Price (TP): Rp1.645 dan Stop Loss (SL): <Rp1.465)

(DESI ANGRIANI)

Halaman : 1 2 3 4
Advertisement
Advertisement