sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

IHSG Rawan Volatil, Waktunya Investor Lakukan Selective Buying

Market news editor Rohman Wibowo
21/09/2026 08:51 WIB
Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan masih tertahan dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan volatil pada perdagangan sepekan ke depan.
IHSG Rawan Volatil, Waktunya Investor Lakukan Selective Buying. (Foto Istimewa)
IHSG Rawan Volatil, Waktunya Investor Lakukan Selective Buying. (Foto Istimewa)

IDXChannel - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan masih tertahan dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan volatil pada perdagangan sepekan ke depan.

Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menjelaskan, pelemahan indeks domestik yang dibayangi aksi jual bersih pemodal asing sebesar Rp2,9 triliun dalam sepekan terakhir membuat ruang penguatan pasar masih rawan terkikis aksi pelepasan posisi.

"Saya memperkirakan IHSG pekan depan bergerak dalam rentang 6.350–6.600, dengan area 6.350–6.400 sebagai support penting dan 6.500–6.600 sebagai resistance. Selama mampu bertahan di atas 6.350, peluang technical rebound masih terbuka, sedangkan penembusan 6.600 akan menjadi sinyal yang lebih positif bagi perubahan momentum," ujarnya kepada IDX Channel, Senin (21/9/2026).

Pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu, IHSG tergelincir 0,33 persen ke posisi 6.441. Penurunan ini terjadi di tengah penguatan mayoritas bursa saham kawasan Asia, mengindikasikan sentimen penekan indeks tidak semata-mata bersumber dari dinamika eksternal, melainkan juga faktor kehati-hatian pemodal di dalam negeri.

Dari kancah global, kenaikan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) sebesar 25 basis poin (bps) memaksa pelaku pasar kembali mencermati arah pengetatan moneter di tengah ancaman inflasi Negeri Paman Sam yang belum sepenuhnya reda. Dinamika tersebut menjaga keperkasaan dolar Amerika Serikat (AS) dan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury yield), yang berimbas pada aliran dana keluar dari pasar negara berkembang.

Meski demikian, kata dia, koreksi harga minyak mentah jenis Brent ke kisaran US102,68 per barel dan WTI ke level US100,08 per barel memberi sedikit ruang napas bagi pasar karena kekhawatiran disrupsi pasokan mulai mereda.

Menurut dia, perang dan eskalasi geopolitik di Timur Tengah tetap menjadi faktor risiko utama mengingat level harga energi masih tergolong tinggi. 

Dari ranah domestik, pergerakan nilai tukar rupiah yang bertengger di kisaran Rp17.758 per dolar AS, isu penyesuaian bobot indeks MSCI, serta sensitivitas harga saham-saham berkapitalisasi pasar jumbo (big caps) turut membayangi arah pergerakan indeks.

Pelaku pasar perlu mewaspadai potensi koreksi lanjutan apabila indeks domestik kehilangan level pertahanan krusialnya. Tekanan jual yang kembali memuncak dikhawatirkan dapat membuka kembali jalur penurunan menuju area psikologis yang lebih rendah.

"Jika tekanan jual kembali meningkat dan IHSG kehilangan 6.350, risiko pelemahan menuju 6.200–6.250 akan terbuka. Sebaliknya, apabila indeks mampu bertahan di atas 6.400 kemudian menembus 6.500, peluang untuk menguji 6.550–6.600 semakin besar," kata Hendra.

Hendra menilai perdagangan pekan depan pada dasarnya akan menjadi ajang pertarungan antara aksi perburuan saham murah melawan tekanan jual asing. Untuk membuka ruang kenaikan yang lebih solid menuju area 6.550–6.600, IHSG dituntut untuk terlebih dahulu merebut kembali momentum teknikal di atas level 6.500.

Di tengah ketidakpastian makroekonomi, rotasi portofolio ke saham-saham bertaraf defensif dan emiten yang mengandalkan pemulihan konsumsi domestik dipandang sebagai langkah penyeimbang. Pelaku pasar dapat mencermati sektor ritel modern serta infrastruktur penunjang telekomunikasi yang relatif kebal terhadap fluktuasi suku bunga global.

"Eksposur MAPI terhadap bisnis ritel dan konsumsi dapat menjadi katalis apabila sentimen domestik dan ekspektasi terhadap daya beli masyarakat mulai membaik. Sementara itu, karakter bisnis MTEL yang relatif defensif dapat menjadi penyeimbang ketika pasar masih menghadapi tekanan dari faktor makro global," kata Hendra.

Hendra menyematkan rekomendasi trading buy untuk saham PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) dengan target harga Rp1.650 dan PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) pada target harga Rp550 per saham.

Kemudian, untuk saham berbasis komoditas, Hendra merekomendasikan speculative buy pada PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dengan target harga Rp5.200 seiring ekspektasi hilirisasi nikel, dengan catatan investor wajib menerapkan manajemen risiko yang disiplin.

Peluang trading buy juga disematkan pada PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) dengan target harga Rp580 per saham guna menangkap momentum pergerakan saham mineral.

Hendra menambahkan, investor diimbau menahan diri dari tindakan spekulatif yang agresif mengejar harga saat bursa sedang mengalami kenaikan sesaat. Pendekatan akumulasi bertahap saat terjadi pelemahan harga menjadi strategi yang lebih rasional untuk mengantisipasi volatilitas arus modal internasional.

"Secara keseluruhan, saya melihat pekan depan bukan momentum untuk mengejar kenaikan IHSG secara agresif, melainkan fase untuk melakukan selective buying. Selama foreign net sell masih besar dan ketidakpastian suku bunga global serta geopolitik masih tinggi, strategi yang lebih tepat adalah fokus pada saham-saham dengan katalis kuat dan memanfaatkan koreksi sebagai peluang akumulasi," ujar Hendra.

(Dhera Arizona)

Halaman : 1 2 3 4
Advertisement
Advertisement