Pernyataan tersebut langsung memicu optimisme di pasar global. Saham-saham di Amerika Serikat (AS) alias Wall Street menguat karena investor mulai mengantisipasi potensi de-eskalasi konflik geopolitik.
Di saat yang sama, harga minyak dunia turun tajam ke sekitar USD86 per barel, setelah sebelumnya sempat melonjak di atas USD110 per barel akibat kekhawatiran gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.
BRI Danareksa menilai pasar mulai memperhitungkan (priced-in) skenario de-eskalasi geopolitik, sehingga tekanan terhadap inflasi energi dan volatilitas pasar global berpotensi mereda dalam jangka pendek. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.