Sebaliknya, ketika penguatan pasar sudah lebih dulu tercermin dalam harga atau hanya ditopang oleh segelintir saham, reli Desember kerap gagal berlanjut ke Januari. Pola ini terlihat pada 2023-2024, dan kondisi saat ini dinilai lebih menyerupai periode tersebut.
BRI Danareksa mencatat window dressing pada Desember 2025 relatif terbatas. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hanya naik 1,6 persen secara bulanan, sementara indeks LQ45 menguat 0,4 persen.
Kinerja akhir tahun yang cenderung datar ini mencerminkan bahwa kenaikan pasar sudah banyak terjadi lebih awal, terutama sejak Juli, dan didorong oleh saham-saham tematik di luar LQ45, bukan perbankan besar.
Meski demikian, BRI Danareksa tetap memandang ekspektasi ekspansi fiskal dan kebijakan moneter yang akomodatif akan menopang pertumbuhan ekonomi serta menjadi penopang aset berisiko sepanjang 2026.
Di sisi lain, ruang Bank Indonesia (BI) untuk kembali memangkas suku bunga dinilai semakin terbatas.