Di sisi lain, cadangan devisa berada di dekat level terendah dalam dua tahun, sementara rupiah masih tertekan akibat tingginya harga minyak dunia.
Dari eksternal, investor juga menanti hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 28-29 Juli atau pekan depan.
Rapat tersebut menjadi sorotan setelah inflasi AS pada Juni melambat, meski kenaikan harga energi sepanjang Juli berpotensi kembali memicu perdebatan mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed.
Selain itu, pasar akan mencermati tenggat revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) pertambangan pada 31 Juli yang dinilai dapat memengaruhi prospek pasokan nikel nasional.
Investor juga masih memantau perkembangan konflik di Timur Tengah, terutama potensi gangguan arus pelayaran di Selat Hormuz yang dapat menjaga harga minyak tetap tinggi dan menekan neraca perdagangan, nilai tukar rupiah, serta prospek inflasi Indonesia.