IDXChannel – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan penurunan tajam pada sesi II, Senin (2/3/2026) di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran.
Aksi jual deras terutama menghantam saham-saham konglomerat dan perbankan besar, seiring investor global beralih ke aset aman di tengah kekhawatiran meluasnya konflik dan lonjakan harga minyak.
Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga pukul 14.09 WIB, IHSG terkoreksi signifikan 2,42 persen ke 8.036,06. Nilai transaksi mencapai Rp19,82 triliun dan volume perdagangan 38,05 miliar saham.
Sebanyak 712 saham melemah, hanya 93 saham menguat, dan 153 sisanya tak berubah.
Dengan ini, indeks acuan tersebut melemah 4,38 persen dalam sepekan terakhir.
Sejumlah saham konglomerat berkapitalisasi besar atau big cap menjadi penekan utama IHSG hari ini.
Dari Grup Barito milik pengusaha Prajogo Pangestu, tekanan terlihat pada PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) yang anjlok 7,46 persen ke Rp6.200 per unit.
Saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun 7,29 persen menjadi Rp1.845 per unit, diikuti PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) yang melemah 6,88 persen.
Sementara itu, PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) terkoreksi 6,19 persen dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) turun 6,08 persen.
Tekanan juga datang dari Grup Astra. Saham PT Astra International Tbk (ASII) tercatat melemah 5,24 persen.
Dari kelompok Agung Sedayu-Grup Salim, saham PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) turun 4,20 persen. Sementara itu, saham Grup Salim lainnya, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), terkoreksi 3,27 persen.
Di sektor perbankan, saham bank-bank besar kompak berada di zona merah.
PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BRIS) turun 3,81 persen, PT Bank Mandiri Persero Tbk (BMRI) melemah 3,32 persen, dan PT Bank Rakyat Indonesia Persero Tbk (BBRI) terkoreksi 2,30 persen.
Selanjutnya, PT Bank Negara Indonesia Persero Tbk (BBNI) turun 1,59 persen dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) melemah 1,39 persen.
Tekanan tambahan datang dari Grup Bakrie. Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) turun 3,88 persen, sementara PT Darma Henwa Tbk (DEWA) melemah 3,81 persen.
Pelemahan serentak saham-saham big cap tersebut membuat IHSG tertekan cukup dalam, mengingat kontribusi kapitalisasi pasar dan bobot indeks yang besar dari emiten-emiten tersebut.
Sentimen AS-Iran hingga Aksi Asing
BRI Danareksa Sekuritas menilai, pada Senin (2/3), eskalasi konflik AS-Iran berpotensi meningkatkan risiko gangguan pasokan minyak global, khususnya di Selat Hormuz.
Kondisi ini dapat mendorong harga minyak lebih tinggi, memicu risiko reflasi hingga stagflasi, serta menguntungkan aset safe haven seperti emas dan obligasi, sementara aset berisiko tertekan.
Bagi Indonesia, risiko muncul melalui dua jalur utama, yakni inflasi energi dari sisi perdagangan serta potensi arus keluar modal dan volatilitas rupiah dari sisi keuangan.
Di sisi lain, pasar juga mencermati potensi peningkatan risiko peringkat kredit setelah Moody’s memberikan outlook negatif.
Investor kini menunggu hasil tinjauan S&P dan Fitch, di tengah rasio pembayaran bunga terhadap pendapatan negara yang telah menembus 15 persen.
Dari domestik, perpanjangan kebijakan Saldo Anggaran Lebih (SAL) Rp200 triliun hingga September 2026 menjaga likuiditas tetap longgar.
M2 tumbuh 10 persen secara tahunan per Januari 2026, sementara kredit naik 10,2 persen. Yield SBN tenor 10 tahun bertahan di kisaran 6,4 persen, meski Bank Indonesia (BI) tetap perlu mengalibrasi SRBI demi menjaga stabilitas rupiah.
Di pasar keuangan, imbal hasil (yield) UST dan INDOGB tenor 10 tahun turun ke 6,43 persen. Rupiah menguat 0,6 persen ke Rp16.771 per USD.
Namun, kata BRI Danareksa, IHSG masih melemah 4,8 persen secara year-to-date, terburuk di kawasan, dengan investor asing mencatat net sell Rp4,6 triliun bulan ini, terutama di saham BBCA, BBNI, INDF, BUMI, dan INKP.
Bursa Asia Melemah
Bursa saham Asia merosot pada Senin (2/3) seiring pasar merespons eskalasi konflik antara Iran dan AS-Israel, dengan Hang Seng minus 2,23 persen dan Nikkei Jepang turun 1,35 persen.
Melansir dari Reuters, AS dan Israel melancarkan serangan militer ke Iran pada akhir pekan yang menewaskan Ali Khamenei.
Teheran membalas dengan menargetkan aset-aset AS di kawasan tersebut, meningkatkan kekhawatiran konflik yang lebih luas.
Serangan militer oleh AS dan Israel belum menunjukkan tanda mereda, sementara Iran merespons dengan rentetan rudal di kawasan, yang berisiko menyeret negara-negara tetangga ke dalam konflik.
Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada Daily Mail bahwa konflik bisa berlangsung empat pekan lagi, seraya menegaskan serangan akan terus berlanjut hingga tujuan AS tercapai.
Pada Senin (2/3), mengutip Reuters, Israel melancarkan serangan udara baru yang menargetkan Teheran dan memperluas kampanye militernya dengan menyerang militan Hizbullah yang didukung Iran di Libanon.
Perhatian pasar tertuju pada Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak laut dunia dan 20 persen gas alam cair global.
Meski jalur vital itu belum sepenuhnya diblokade, pelacakan kapal menunjukkan kapal tanker menumpuk di kedua sisi selat karena khawatir serangan atau kesulitan memperoleh asuransi pelayaran. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.