Sejumlah saham menjadi pemberat utama indeks. Saham konglomerasi BYAN berkontribusi negatif 9,42 poin, disusul AMMN sebesar 8,38 poin dan bank besar BBRI sebesar 7,36 poin.
Tekanan juga datang dari saham konglomerasi dan emiten berbasis sumber daya alam (SDA), seperti BREN yang mengurangi 4,86 poin, BRPT 4,67 poin, BRMS 4 poin, serta TPIA sebesar 3,05 poin.
Dari sisi sektoral, Basic Materials menjadi sumber tekanan terbesar dengan kontribusi negatif 32,62 poin.
Menurut catatan Indo Premier, sektor ini menyumbang sekitar 30 persen dari total kontribusi negatif sektoral, mencerminkan besarnya tekanan pada saham-saham berbasis komoditas dan material.
Menurut Mirae Asset Sekuritas, ketidakpastian terkait MSCI dan arus dana asing yang terus keluar telah menekan kepercayaan investor terhadap aset Indonesia.