sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

IHSG Turun Lebih dari 1 Persen Dekati 6.000, Transisi BI, Rupiah, hingga FOMC Jadi Sorotan

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
29/07/2026 10:20 WIB
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah tajam pada perdagangan Rabu (29/7/2026), melanjutkan tren penurunan menjadi enam hari berturut-turut.
IHSG Turun Lebih dari 1 Persen Dekati 6.000, Transisi BI, Rupiah, hingga FOMC Jadi Sorotan.
IHSG Turun Lebih dari 1 Persen Dekati 6.000, Transisi BI, Rupiah, hingga FOMC Jadi Sorotan.

IDXChannel – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah tajam pada perdagangan Rabu (29/7/2026), melanjutkan tren penurunan menjadi enam hari berturut-turut dan memangkas reli yang sempat terjadi pada 20 hari pertama Juli.

Pelaku pasar tengah mencermati sederet sentimen domestik maupun global yang membayangi arah pasar.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga pukul 10.10 WIB, IHSG turun 1,35 persen ke level 6.047,87. Nilai transaksi mencapai Rp13,71 triliun, didominasi transaksi di pasar negosiasi sebesar Rp9,56 triliun.

Sebanyak 543 saham terkoreksi, 138 saham menguat, sementara 284 saham bergerak stagnan. Saham-saham konglomerasi dan perbankan berkapitalisasi besar menjadi pemberat utama pergerakan indeks pada sesi pagi.

Menurut BRI Danareksa Sekuritas, investor menanti kepastian sejumlah sentimen penting yang berpotensi menentukan arah pasar dalam jangka pendek.

Sentimen pertama adalah transisi kepemimpinan Bank Indonesia (BI). Setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri, Destry Damayanti menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur BI.

Pasar masih menunggu penetapan gubernur definitif di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan ketidakpastian global.

Kondisi tersebut dinilai menjaga volatilitas pasar domestik tetap tinggi karena pelaku pasar masih mencermati arah kebijakan moneter dan independensi BI.

Di sisi eksternal, perhatian juga tertuju pada hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC). The Fed diperkirakan mempertahankan suku bunga Fed Funds Rate di kisaran 3,50-3,75 persen untuk kelima kalinya secara beruntun.

Meski demikian, investor akan mencermati proyeksi suku bunga (dot plot), forward guidance, serta pernyataan Ketua The Fed yang dapat memengaruhi pergerakan dolar AS dan aset berisiko, termasuk pasar negara berkembang.

BRI Danareksa juga menyoroti pelemahan rupiah yang mendekati level Rp18.100 per USD.

Tekanan dolar AS dan kehati-hatian investor terhadap transisi kepemimpinan BI dinilai berpotensi menekan saham-saham yang memiliki eksposur impor tinggi serta memengaruhi arus modal asing.

Selain itu, harga minyak dunia kembali menguat di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Brent naik lebih dari 4 persen ke kisaran USD88 per barel setelah konflik Iran-AS kembali memanas, sementara stok minyak mentah AS turun 3,3 juta barel berdasarkan data API.

Kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global, membebani rupiah dan subsidi energi, meski di sisi lain dapat menjadi katalis positif bagi saham sektor energi dan migas.

Di pasar global, investor juga masih mencermati musim laporan keuangan emiten-emiten besar di AS. Pergerakan saham teknologi dan hasil kinerja korporasi diperkirakan menjadi penentu sentimen pasar global dalam jangka pendek.

Sementara itu, Phintraco Sekuritas menilai level 6.000 menjadi area support kuat bagi IHSG saat ini.

“Selama kepastian dari sentimen-sentimen tersebut belum terbentuk, pergerakan IHSG berpotensi tetap volatil dengan investor cenderung bersikap selektif,” tulis BRI Danareksa. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Halaman : 1 2 3 4
Advertisement
Advertisement