sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Imbal Hasil Obligasi Global Terus Naik, Lonjakan Harga Minyak Kerek Risiko Inflasi

Market news editor Wahyu Dwi Anggoro
11/09/2026 11:45 WIB
Imbal hasil obligasi global melonjak pada Jumat (11/9/2026) karena melambungnya harga minyak memicu risiko inflasi.
Imbal Hasil Obligasi Global Terus Naik, Lonjakan Harga Minyak Kerek Risiko Inflasi. (Foto: Magnific)
Imbal Hasil Obligasi Global Terus Naik, Lonjakan Harga Minyak Kerek Risiko Inflasi. (Foto: Magnific)

IDXChannel - Imbal hasil obligasi global melonjak pada Jumat (11/9/2026) karena melambungnya harga minyak memicu risiko inflasi.

Dilansir dari CNA, investor memperhitungkan potensi pengetatan kebijakan lebih lanjut dari bank sentral di seluruh dunia.

Minyak mentah Brent naik ke level tertinggi empat bulan di USD109,97 per barel pada Jumat. Aliran minyak melalui Selat Hormuz tetap terbatas karena Amerika Serikat dan Iran terus saling serang.

Sementara itu, kelompok Houthi menguasai kota pelabuhan Mocha di Yaman baru-baru ini, mengancam ekspor minyak Arab Saudi di Laut Merah.

"Lalu lintas maritim melalui Selat Bab el-Mandeb sangat terancam oleh kemajuan Houthi," kata Kepala Strategi Komoditas global RBC Capital Markets Helima Croft.

Croft memperkirakan harga minyak Brent, patokan internasional, dapat mencapai USD121,99 per barel akhir tahun ini karena dimulainya kembali perang skala penuh antara Arab Saudi dan Houthi.

Imbal hasil obligasi Treasury AS 10 tahun naik dua basis poin (bps) pada Jumat menjadi 4,9708 persen, tertinggi dalam tiga tahun dan sedikit di bawah level psikologis lima persen. Kenaikan tersebut meningkatkan biaya keuangan untuk utang pemerintah AS yang totalnya telah menembus USD40 triliun. 

Imbal hasil obligasi Treasury AS 30 tahun mencapai level tertinggi 19 tahun di 5,3803 persen, menaikkan suku bunga hipotek AS dan menghambat pasar perumahan.

Imbal hasil obligasi Treasury AS dua tahun naik lagi menjadi 4,5835 persen setelah karena pasar meningkatkan taruhan bahwa Federal Reserve (The Fed) akan menaikkan suku bunga bulan ini untuk mengendalikan inflasi.

Penurunan tajam di pasar obligasi AS sebagian juga disebabkan oleh program pembelian kembali obligasi pemerintah yang gagal mencapai nilai yang diharapkan sebesar USD6 miliar.

Asia juga menghadapi aksi jual, dengan imbal hasil obligasi pemerintah Australia tiga tahun melonjak 18 bps ke level tertinggi 15 tahun sebesar 5,047 persen. Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang 10 tahun naik enam bps menjadi 2,97 persen karena data menunjukkan inflasi grosir Jepang tetap tinggi.

Para analis di JPMorgan kini memperkirakan delapan dari sembilan bank sentral negara maju akan menaikkan suku bunga pada akhir tahun, termasuk The Fed, Bank Sentral Jepang (BOJ), keempat bank sentral di Eropa, serta bank sentral Australia dan Selandia Baru. (Wahyu Dwi Anggoro)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement