"Selain itu, kami juga menerapkan efisiensi biaya dengan target optimasi hingga enam persen pada 2026. Jadi, Perseroan mengoptimalkan syruktur biaya agar lebih ramping dan produktif, meningkatkan efisiensi operasional di seluruh unit kerja, serta mengalokasikan sumber daya ke area bernilai tambah dan berpotensi tinggi," ujar Foong.
Salah satu implementasinya, dikatakan Foong, yaitu peningkatan produktivitas inventori dengan mengurangi total Stock Keeping Unit (SKU) hingga 15 persen. Strategi ini diklaim Foong telah berhasil mendorong biaya handling, manajemen gudang lebih murah, meningkatkan fokus penjualan dan pemasaran, serta meningkatkan kualitas hubungan dengan supplier utama.
Dalam upaya meningkatkan omzet, BAUT terus menggandeng menggandeng perusahaan manufaktur, konstruksi, furnitur, dan proyek-proyek strategis nasional.
Tak hanya itu, Perseroan juga secara berkala dan terus menerus melakukan promosi untuk merek FastFix yang telah diluncurkan pada 2024 lalu, di mana sejumlah proyek yang dijalankan pada 2025, di antaranya, Masjid Agung Palu, proyek smelter Manyar, proyek Amman Mineral, pengembangan Data Center, hingga Koperasi Merah Putih.
Dalam agenda pertumbuhan 2026, BAUT berkomitmen meningkatkan jumlah dan kualitas event secara rutin untuk memperkuat hubungan antara Perseroan dengan pemegang saham dan investor.