Selain mencatat peningkatan dalam laporan laba rugi, COIN juga berhasil memperbaiki posisi neraca keuangan. Perseroan mampu menurunkan jumlah liabilitas menjadi Rp53,73 miliar, dari sebelumnya Rp235 miliar pada akhir 2024.
Di saat yang bersamaan, total aset perseroan meningkat 5 persen menjadi Rp1,6 triliun. Peningkatan jumlah aset ini didorong oleh kegiatan operasional perusahaan yang stabil, salah satunya bersumber dari kuatnya transaksi segmen derivatif.
Menjalani tahun 2026, Ade memproyeksikan kondisi pasar yang berpotensi lebih dinamis seiring dengan ketidakpastian ekonomi makro dan sentimen geopolitik. Kendati demikian, dia melihat kondisi tersebut dapat menjadi peluang bagi segmen derivatif untuk kembali tumbuh positif secara berkelanjutan.
Di tengah volatilitas pasar, produk derivatif kripto dapat dimanfaatkan oleh konsumen sebagai instrumen lindung nilai (hedging). Oleh karena itu, Ade optimistis segmen derivatif ini akan melanjutkan tren pertumbuhannya dan tetap menjadi salah satu penyumbang bagi pendapatan perseroan ke depan.
“Kami juga akan terus memperkuat portofolio usaha dan berupaya menangkap peluang baru untuk menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan. Perseroan juga berkomitmen untuk selalu mendukung kegiatan operasional kedua anak usahanya, yakni Bursa Kripto CFX dan Lembaga Kustodian ICC, agar tetap mengedepankan transparansi, inovasi, dan berpegang pada prinsip tata kelola perusahaan yang baik,” pungkas Ade.
(Rahmat Fiansyah)