Namun, pengumuman MSCI membuat investor asing berbalik arah. Mereka kini memilih menunggu kejelasan implementasi sejumlah kebijakan terkait reformasi struktural pasar modal, termasuk pembukaan data kepemilikan 1 persen dan aturan free float 15 persen yang memiliki tenggat waktu hingga Mei.
Menurut Helmy, aturan free float tidak seharusnya dipandang negatif. “Kalau fundamental perusahaan membaik dan laba naik, maka porsi saham publik yang lebih besar justru mencerminkan kualitas emiten yang lebih baik,” katanya.
Dia mengingatkan bahwa harga saham idealnya menjadi cerminan pertumbuhan fundamental, bukan sekadar didorong ekspektasi masuk indeks global. Jika harga saham hanya bergerak karena faktor teknikal atau hendak masuk indeks global tanpa perbaikan kinerja, maka pola investasi menjadi kurang sehat.
Secara keseluruhan, dia menilai tekanan yang muncul saat ini lebih bersifat persepsi jangka pendek. Dengan komunikasi yang konsisten dan langkah reformasi yang terstruktur, arus modal asing diyakini berpotensi kembali masuk setelah kuartal I-2026.
(Rahmat Fiansyah/Nasywa Salsabila)